GOBER goBLOG

Welcome, Silakan Keset Di Sini…

Posted by: g o b e r on: Desember 10, 2008

Ini adalah blog milik Berlin Sianipar, seorang pejantan tangguh bertubuh atletis tambun, tinggi besar dan berambut gondrong namun berhati romantis selembut sutra secerah mentari yang mencoba untuk menuliskan apa saja yang dia ingin tuliskan tentang kehidupannya, pengalamannya dan pelajaran-pelajaran kehidupan yang sudah didapatkannya selama 25 tahun dia hidup dan ingin dibagikannya kepada Anda sekalian sehingga semoga Anda bisa tersenyum, berrefleksi dan belajar menjadi manusia baru yang lebih hancur bijak dan lebih romantis.

Satu paragraf yang hanya berisi satu kalimat ancur yang sedikit banyak bisa menggambarkan diriku dan semoga membuat blog ini naik di peringkat paling atas untuk Google search dengan keyword “Berlin Sianipar”. Semoga. Note: SUDAH BERHASIL ! :) Google aja Berlin Sianipar tanpa tanda kutip :) Note2: Bah, ternyata susah juga bertahan jadi nomor satu. Sekarang udah ngilang lagi gak tau di nomor berapa. Hehe…

Untuk mengetahui diriku lebih lanjut, silakan klik di sini. Untuk mengetahui diriku lebih dalam, silaken lapur dulu ke Pak RT, minta surat ijin bermalam. Sebab apabila anda tidak mempunyai surat ijin bermalam dan anda dilihat dan diketahui oleh masyarakat bahwa anda bermalam di kediaman saya, maka kita bisa diarak bugil keliling desa lalu langsung dibawa ke hadapan penghulu untuk dinikahkan. Anda bisa menyesal kalau ternyata saya tidak seperti yang anda inginkan, dan saya bisa lebih menyesal kalau ternyata Anda adalah lelaki yang mempunyai pedang panjang sama seperti saya.

Terima kasih.

TULISAN SAYA, AKAN MENUNTUN ANDA KE JALAN YANG BENAR…*

*kalo nggak nyasar

+++

Added (ini serius) : Buat mbaca2 postingan lamaku yang nggak penting, silakan menuju ke bagian Arsip Tulisanku di halaman ini bagian kanan agak ke bawah. Bawah, bawah, bukan sini. Nha situ itu. Ada kan? Arsip Tulisanku Di Sini judulnya. Dikelompokkan berdasarkan bulan. Angka di belakang nama bulan itu jumlah postingan bulan itu. Klik aja salah satunya, sampeyan bakal dibawa ke neraka jahanam bagian arsip blog ini. Nah di situ sampeyan bakal liat postingan2 lamaku satu per satu, tapi dalam bentuk summary, bukan full text. Aku belom tau gimana caranya nampilin arsip tulisan secara fulltext. Sementara ini, kalo mau baca tulisan lamaku secara penuh, klik aja di JUDULnya, karena theme yang kupakai ini Read More tagnya bukan berbentuk link tapi cuma [...] doang. Thanks udah mau ngebaca bagian yang nggak penting ini. Semoga besok Anda diterima di sisi-Nya. Besok kalo udah mati maksudnya.

Balada Si Dee, Si Celana Dalam Penjaga Burung

Posted by: g o b e r on: Februari 6, 2010

Bermula dari sebuah pabrik, ia, sebut saja Si Dee, memulai petualangannya. Terjalin dari ratusan helai benang ia mulai mewujud menjadi di dunia ini. Tanpa bisa memilih menjadi apa dan berwarna apa, ia terlahir sebagai sebuah… celana dalam. Dan inilah kisah petualangannya…

Terdiam dalam sebuah kotak karton bermuka plastik transparan bersama dua kawan sekotaknya, ia berkumpul bersama kawan-kawannya yang lain di rak sebuah supermarket. Pakaian Dalam, begitu bunyi label besar di depan rak itu.

Tak banyak orang yang berhenti di rak itu bahkan untuk sekedar melihat-lihat. Maklumlah, celana dalam bukanlah gula pasir yang dibutuhkan oleh manusia setiap harinya. Celana dalam walaupun termasuk dalam kategori sandang yang adalah kebutuhan primer namun tak setiap hari manusia membelinya. Bahkan mungkin belum tentu juga manusia membeli celana dalam baru setiap tahun. Mana ada tradisi memberi kado yang melibatkan urusan celana dalam. Kalaupun ada, itu hanya dalam acara lamaran di mana si celana dalam menjadi salah satu bagian dari bingkisan-bingkisan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Bilapun lebih dari itu, biasanya celana dalam yang terbungkus dalam kado istimewa adalah celana dalam perempuan berharga mahal yang diberikan oleh seorang lelaki kepada perempuannya. Entah itu perempuan resmi atau perempuan selingkuhannya.

Tapi tak mungkin itu Si Dee. Ia hanyalah celana dalam biasa. Celana dalam unisex yang biasanya dipakai oleh pria namun juga kadang dipakai oleh wanita. Tak banyak memang perempuan yang memakainya, tapi ada saja. Artis sinetron bertubuh sintal itu misalnya, mengaku suka memakai celana dalam model Si Dee. Lebih nyaman katanya, ketimbang celana dalam khusus perempuan yang umumnya sangat tipis itu.

Seorang pria necis berhenti di rak itu, melihat-lihat. Matanya terpaku pada celana dalam di rak di atas rak Si Dee. Celana dalam bermerk, dengan harga hampir dua kali lipat harga Si Dee. Tak butuh waktu lama untuk si mahal berpindah ke kantong belanja pria necis itu karena memang bagian celana dalam tidak membolehkan calon pembelinya untuk mencobanya terlebih dahulu. Pria necis memang biasanya beranggapan bahwa harga menentukan segalanya. Semakin mahal seharusnya kualitasnya juga semakin bagus. Seperti membeli mobil, harga sebanding dengan kenyamanannya. Tak perlulah menyebut-nyebut merek mobil yang menjadi tunggangan para punggawa kerajaan itu. Ah mengapa jadi melenceng ke sana.

Seminggu berselang, giliran seorang perempuan dan pasangan lelakinya – harus menyebut jender karena sekarang perempuan tak selalu berpasangan dengan lelaki – berhenti di rak itu. Melihat-lihat sebentar, si lelaki mengambil kotak Si Dee dan membaca tulisa-tulisan di kemasan itu. Entah apa yang lalu dibicarakannya dengan si perempuan, lalu mereka tertawa renyah. Sedikit harapan muncul bagi Si Dee untuk berpindah ke keranjang belanja pasangan itu, tapi lalu segera lenyap ketika mereka meletakkannya kembali dan berlalu pergi.

Tiga minggu kemudian, seorang ibu setengah baya dan anak lelakinya yang mengantarkannya lewat di rak Si Dee. Nampaknya awalnya ia tak bermaksud membeli celana dalam. Tapi demi melihat ayat-ayat suci bagi tiap perempuan terpampang di rak Si Dee, ibu itu menghentikan langkahnya. “Diskon 30%” begitu ayat itu tertulis di kertas merah dengan tinta perak. Si ibu nampak berbicara dengan anak lelakinya, nampaknya ia menawarkan membelikan celana dalam untuk anak lelakinya itu. Tak usah heran, lelaki memang terlalu malas untuk membeli celana dalamnya sendiri. Bahkan konon katanya, Tuhan menciptakan perempuan untuk menemani lelaki adalah karena lelaki pada dasarnya tak mampu mengurus dirinya sendiri. Si anak lelaki itu tak merespon berlebihan. Biasa saja, namun tak nampak menolak. Tak lama kemudian Si Dee pun berpindah ke keranjang belanja ibu itu, bergabung bersama barang belanjaan lainnya.

Satu jam kemudian, Si Dee yang girang sudah berada di rumah barunya. Sebuah lemari kayu di sudut kamar tidur si anak lelaki yang ternyata masih pelajar SMA. Dengan penuh sukacita, Si Dee menunggu waktunya untuk melakukan debut tugas pertamanya, menjaga ‘burung’ majikannya supaya tidak ke mana-mana. Bersama tumpukan celana dalam lainnya yang kebanyakan sudah berlubang di sana-sini, Si Dee dengan setia menanti gilirannya tiba.

Seminggu berselang, Si Dee belum juga mendapatkan jatahnya. Nampaknya sang majikan memang lebih nyaman memakai celana dalam lamanya yang sudah sobek sana-sini dan kondor kolornya meskipun itu artinya si ‘burung’ tak terjaga dengan keamanan maksimum. Namun begitu, Si Dee tetap sabar menunggu. “Segala sesuatu indah pada waktunya”, begitu firman Dewa Celana Dalam yang pernah didengarnya di pabrik dulu.

Suatu kali di musim penghujan, Si Dee sendirian di lemari itu. Kawan-kawannya nampaknya sedang mengantri di jemuran untuk menunggu kering. Nasib baik buat Si Dee, majikannya tak punya pilihan lain. Akhirnya Si Dee menjalani debutnya sebagai Penjaga Burung, profesi idaman setiap celana dalam. Profesi ini lebih menantang ketimbang profesi Penjaga Sarang Burung, karena tugasnya tak hanya pasif berdiam diri tapi juga aktif menjaga supaya benda pusaka yang dijaganya tak menelusup ke luar.

Tugas pertamanya dijalankannya dengan sukses. The Burung tak ke mana-mana, ia tak pernah terselip di antara kedua belahan pantat, sukses. Bangga dirasakannya. Ia berharap kesan pertamanya ini membawa peluang yang lebih besar baginya untuk esok terpilih lagi melakukan tugas penting menjaga ‘burung’ majikannya.

Usai menjalankan tugas, Si Dee menjalani ritual selanjutnya yaitu pencucian dan pengeringan. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, hujan terus turun hampir setiap hari sehingga Si Dee harus selalu berpindah-pindah dari bergantung di tali jemuran di halaman lalu ke tempat teduh di tempat cucian. Si Dee tak bisa menyalahkan keadaan atau memaksa untuk dimasukkan ke lemari. Tentu tak nyaman bagi majikannya bila memakai Si Dee dalam keadaan setengah kering setengah basah. Berresiko jamuran.

Beruntung, tiga hari kemudian mentari bersinar terik. Si Dee pun digiring bersama teman-temannya ke tali jemuran di halaman. Penuh sukacita, Si Dee menyapa mentari yang tengah mengeringkannya. Ia membayangkan akan segera terpilih lagi untuk melaksanakan tugas sebagai Penjaga Burung.

Namun nampaknya Si Dee memang kurang beruntung. Seorang pencuri nekat yang datang dan pergi secepat kilat menyahutnya dari tali jemuran bersama banyak kawan-kawannya. Seorang kawannya pernah mengatakan bahwa mungkin ia melakukan sesuatu yang buruk di kehidupannya terdahulu sehingga ia kini harus membayar karmanya. Tentu Si Dee tak serta merta mempercayainya. Ia percaya bahwa kehidupan ini adalah kehidupan yang baik. Ia percaya bahwa ia memegang kunci takdirnya sendiri. Tapi kini ia hanya bisa percaya bahwa semuanya yang terjadi ini baik adanya, walaupun bertentangan dengan keinginannya.

Si pencuri itu membawa Si Dee ke rumahnya. Pilah pilih pilah pilih, Si Dee dipisahkan sendirian. Bukan karena Si Dee tidak menarik, tapi memang Si Dee adalah satu-satunya celana dalam dalam tumpukan pakaian curian itu. Nampaknya si pencuri itu juga menganut asas moralitas dan higienitas yang cukup tinggi sehingga membuatnya tak mau bertukar sikat gigi dan pakaian dalam. Sial bagi Si Dee, ia termasuk dalam golongan pakaian dalam yang menurut si pencuri haram dipertukarkan.

Hujan masih terus turun dan Si Dee masih teronggok di sudut ruangan dekat tempat sampah. Nasibnya tinggal menunggu dibuang saja nampaknya. Si pencuri yang nampak jengah dengan hujan yang tak kunjung reda nampak tersenyum kecil. Ia teringat dengan petuah bijak yang didengarnya dulu, “Bila engkau ingin hujan reda, lemparkanlah celana dalam ke atas genteng..” Dan dengan jari telunjuk dan jempolnya, si pencuri itupun menjumput kolor Si Dee dan … melemparkannya ke atas genteng…

Ajaib ! Tak sampai sepuluh menit kemudian, hujan reda ! Tentu saja tak ada yang kebetulan. Hujan sudah turun berhari-hari dan mungkin memang sudah waktunya reda. Tapi tetap saja si pencuri menganggap bahwa redanya hujan adalah karena ia melemparkan Si Dee ke atas genteng. Si pencuri itu tak tahu bahwa justru ulahnya – dan jutaan orang lainnya yang percaya tahayul itu – adalah penyebab berubahnya kadar keasaman air hujan. Makin lama memang air hujan makin asam dan itu adalah akibat dari gas yang menguap dari jutaan celana dalam yang dilemparkan ke atas genteng.

Si Dee terdiam terpaku di atas genteng. Ia mulai kehilangan harapannya. Kepercayaannya terhadap takdir yang baik mulai goyah. Ia sedih, namun masih enggan untuk menyerah.

Tiga bulan berlalu, Si Dee masih saja tergeletak di atas genteng rumah si pencuri. Panas dan hujan yang bergantian membuat benang-benangnya mulai kaku. Ia yakin ia tak lagi nyaman untuk dipakai. Pupus sudah harapannya untuk melanjutkan karier sebagai Penjaga Burung…

Setahun berlalu, rumah itu berganti pemilik. Sang pemilik baru, seorang pedagang burung, membersihkan rumah itu termasuk atapnya. Sang pedagang burung itu menemukan Si Dee di atas genteng rumah itu dan membuangnya ke bawah. Anak sang pedagang burung yang masih duduk di kelas dua SD menemukannya dan menjadikannya sarana bermain olok-olok bersama teman-temannya. Kejijikan terhadap Si Dee dijadikan permainan anak-anak itu, sampai kemudian sang pedagang burung menegur mereka dan menyuruh untuk membuang Si Dee ke tempat sampah. Tanpa adu argumen, anak-anak itu menuruti perintah itu.

Kini Si Dee teronggok di tempat sampah. Pupus sudah harapannya. Hilang sudah imannya. Ia tak lagi menjadi Si Dee yang dulu, Si Dee yang penuh iman, penuh harapan dan senyuman. Ia kehilangan cahayanya. Ia memilih menjadi atheis. Ya, Si Dee kini menjadi celana dalam yang atheis.

Esoknya, Si Dee berpindah tempat ke tempat pembuangan sampah umum. Ia merasa bahwa kini ia hanya sampah yang menunggu untuk tertimbun di dalam tanah dan terurai menjadi debu lagi. Ia ingat sepotong ayat kitab suci, firman Dewa Celana Dalam. “Engkau adalah debu, dan kelak engkau akan kembali menjadi debu.” Si Dee sudah menjadi atheis, namun ia tak bisa melupakan seluruhnya ajaran-ajaran yang pernah diterimanya dulu.

Seorang lelaki gila masuk ke tempat pembuangan sampah itu. Telanjang, dekil dan bau. Ia melihat-lihat adakah makanan yang bisa dimakannya atau apapun yang bisa dimanfaatkannya. Orang gila itu memakan sisa-sisa makanan di tempat sampah itu. Lalu ia menemukan sebuah topi dekil yang langsung dipakainya. Dan, ia menemukan … Si Dee…

Orang gila itu memakai Si Dee untuk menutupi bagian tengah tubuhnya. Ah, terasa nyaman. Lebih nyaman ketimbang tidak memakai apapun. Lebih hangat. Lelaki gila itupun tersenyum senang.

Si Dee tak serta merta tersenyum. Bayangan masa lalunya di rumah majikannya dulu masih melekat, membuat ia membandingkannya dengan keadannya sekarang. Dekil, kering, dan dipakai oleh seorang lelaki gila. Butuh waktu agak lama sebelum akhirnya Si Dee menyadari bahwa keadaannya kini jauh lebih baik ketimbang waktu masih di atas genteng dulu, kepanasan, kehujanan dan tanpa masa depan. Kini, Si Dee walaupun tak lagi berada di tempat yang nyaman tapi ia bisa merasa sangat bersyukur karena ia bisa kembali lagi melanjutkan kariernya, menapaki takdirnya, dalam profesi yang sejak dulu sangat dibanggakannya : menjadi Penjaga Burung …

Lelaki gila itu...

Inilah nasib si lelaki gila itu apabila ia tak dipertemukan oleh Sang Hidup dengan Si Dee, si celana dalam penjaga burung. Untung ada Si Dee.

+++

Tak perlu lah dipikirkan apa moral cerita di atas, karena salah satu tips menulis adalah “Sebuah cerita tak harus memiliki moral cerita.” Kalau toh para pembaca bisa menemukan moral cerita dari cerita di atas, anggaplah itu sebagai sebuah pencerahan yang tak semua orang bisa mendapatkannya. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa mendapatkan hidayah dari cerita ini. Pesanku untuk siapapun yang bisa menemukan moral cerita dari kisah di atas, sebarkanlah. Beritakanlah. Ajarkanlah kepada keluargamu, kepada anak cucumu turun temurun, tuliskanlah di dahimu, di tiang pintu rumahmu, supaya mereka ingat kepada perkataanku, Dewa Celana Dalam.

Peace. Damai di bumi, damai di hati, damai di dalam celana dalam.

+++

Diketik oleh tarian sepuluh jariku ketika kepala tak lagi berisi karena otak sedang jalan-jalan ke dengkul. Isi di luar tanggung jawab penulis.

Otak manusia dirancang hanya untuk mencari nikmat dan menghindari sengsara.

Manusia itu makhluk emosi. Pikiran dan pengetahuan tidak menggerakkan manusia. Emosilah yang menggerakkan manusia.

Segala macam peraturan yang dihubungkan dengan rasa takut kesengsaraan dan iming2 kenikmatan hanyalah sebuah cara untuk menggerakkan manusia menuju sebuah tujuan yaitu menjadi lebih baik, menjadi semakin sempurna.

Sayangnya, tak banyak orang yang mampu menjadi tuan dari emosinya sendiri. Kebanyakan orang hanya menjadi budak dari keinginannya sendiri. Keinginan untuk menghindari sengsara neraka dan keinginan untuk mendapatkan kenikmatan surga.

Manusia yang demikian mudah sekali diombang-ambingkan oleh segala macam ajaran2.

Oleh karena sudah menjadi budak keinginan masa depannya, manusia lupa untuk bersyukur dan menjalani hidupnya hari ini dalam kepenuhannya. Manusia lupa untuk menumbuhkan karakternya sendiri menjadi lebih baik dan lebih sempurna.

Adalah sebuah hal yang baik untuk membedakan antara ajaran yang baik dan benar dengan ajaran yang terlihat baik tapi menyesatkan. Akan tetapi, tidak ada yang lebih baik daripada melakukan apa yang baik dan yang benar yang kita ketahui itu.

Bukan pengetahuan yang membuat orang menjadi baik, melainkan tindakan. Dan untuk membuat orang terpacu untuk bertindak, orang perlu sebuah alasan yang sangat kuat, menghindari sengsara dan mencari nikmat. Di situlah gunanya ajaran tentang surga dan neraka. Membuat orang bergerak.

Namun ajaran ini sangat mudah untuk dibelokkan oleh kepentingan2 tertentu misalnya kepentingan lembaga agama atau orang2 yang memanfaatkan agama untuk kepentingannya sendiri. Lembaga agama mengambil sangat banyak manfaat dari pengajaran tentang surga dan neraka ini. Begitu pula dengan nabi2 palsu yang memanfaatkan fear and greed manusia ini untuk mendapatkan kekuasaan, harta, wanita, dll.

Nah kematian dan kebangkitan Yesus adalah titik tolak yang baru. Melalui kebangkitan Yesus, manusia mengalami sesuatu yang sangat diidam2kan oleh semua orang : perubahan perasaan. Perasaan yang berubah dari takut masuk neraka menjadi perasaan bersyukur karena telah diselamatkan. Dari perasaan sangat menginginkan surga menjadi perasaan bersyukur karena telah diberikan jaminan surga.

Perasaan bersyukur menjadi pendorong manusia2 yang telah lahir baru untuk bergerak menuju kesempurnaan. Perasaan yang tidak lagi terbeban oleh masa lalu, tak juga khawatir akan masa depan, tapi perasaan bersyukur sepenuhnya atas apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Ikhlas untuk masa lalu, pasrah untuk masa depan, bersyukur untuk masa kini.

Bertumbuh menuju kesempurnaan tak lagi harus dipacu dengan fear and greed. Bertumbuh menuju kesempurnaan akhirnya akan hanya terpacu oleh satu perasaan yaitu perasaan bersyukur, perasaan bahagia, bahagia karena sudah menyatu dengan Sang Keberadaan.

Bapa di dalam Aku, Aku di dalam kamu dan kamu di dalam Aku.

Manusia yang dikendalikan oleh keinginan adalah manusia lama. Manusia baru adalah manusia yang bisa mengendalikan keinginannya.

Dalam hal yang demikian, masih relevankah perdebatan mengenai nama ?

Ruang Rindu

Posted by: g o b e r on: November 20, 2009

Ada empat ruang di jantungku
Satu ruang untuk diriku,
satu ruang untuk Tuhanku,
satu ruang untuk ibuku

Kusisakan satu ruang di jantungku untukmu,
agar kelak ketika kita kembali bertemu
kau bisa menemuiku di situ
memeluk mencium mencumbuku sepuasmu

Kusebut ruang itu sebagai ruang rindu…

Berpikir Dengan Logika Konsumen

Posted by: g o b e r on: November 20, 2009

Pelajaran apapun bisa didapat kapanpun, di manapun. Seperti tadi, pagi-pagi aku sudah mendapat satu pelajaran lagi tentang bisnis. Begini ceritanya. Jengjeng…

Pagi ini, mesin produksi utamaku mati. Ndak tau kenapa. Bongkar mesin, ternyata ada kabel yang putus. Kusambung, eh ternyata tetep ndak idup. Akupun langsung mencari testpen untuk mengetest kelistrikannya. Apes, ternyata testpenku mati. Langsunglah diriku menuju toko besi. Beh, toko alat listrik maksudnya.

“Mas, ada testpen ?” tanyaku pada si mas penjaga toko.

“Ada, Mas. Dibungkus apa dimakan sini ? jawab si mas.

“”Ada, Mas.” jawab si mas sambil mengambilkan testpen jualannya. Tinggal satu.

Kuamati kemasannya, ada gambar testpennya. Ya iyalah.

Harganya Rp.8.500,- Aku udah mau ngeluarin dompet untuk membayar. Untung aja aku inget untuk selalu mencoba sebelum membeli. Akupun meminta si mas untuk mencobakan testpen itu.

Kemasan dibuka. “LHO ?? Apa ini ?? Kok ada baterainya kecil2 ?” tanyaku heran.

Si mas penjaga tokonya bingung.

“Lho kalo testpen pake baterai, trus besok kalo testpennya mati, gimana caranya mbedain antara baterainya abis ato emang gak ada aliran listriknya ?” tanyaku. Konyol aja menurutku, alat test aliran listrik kok pake baterai ? Hahaha…

Si mas penjaga tokonya bingung. Tapi sebelum dia jongkok, bosnya datang. Aku menanyakan pertanyaan yang sama pada bosnya. “Ini gimana pakenya ? Gimana mbedainnya kalo baterainya abis ato emang ndak ada aliran listrik ?”

Si bos bingung, tapi dia ndak jongkok. Terdiam, berpikir sejenak, si bos pun menjawab dengan bijaknya, “Iya ya ? Gimana caranya ya mas ?”

GUBRAAAAKKKK !!!

Aku pun batal membeli di situ. Pergi ke toko lain, aku mendapatkan testpen yang seperti biasanya, yang ndak pake baterai, dengan harga cuma Rp. 3.000,- Hahaha…

Pelajarannya pagi hari ini adalah :

Seringkali produsen memiliki berbagai ide produk yang menurutnya cemerlang. Akan tetapi, ide cemerlang itu akan menjadi sangat sia-sia apabila ide itu tidak sesuai dengan logika konsumen. Produsen harus selalu ingat dua buah aturan mengenai konsumen :

1. Konsumen selalu benar

2. Bila konsumen salah, silakan baca aturan nomor satu.

Hwahaha…

Produsen harus memiliki kemampuan untuk berpikir dengan cara konsumen. Bila tidak ? Lupakan saja penjualan, apalagi keuntungan. Hahaha…

Konsumen membeli produk hanya jika produk itu masuk di logika mereka, bahkan meskipun harga produk itu tidak masuk akal.

( materi siaran renungan pagi Setetes Embun buat besok pagi di Mitra FM 107.7 MHz, Radione Wong Cilik.. )

Selamat pagi, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Kita bertemu lagi dalam program renungan pagi Setetes Embun di Mitra FM ini. Pagi ini, kita akan memulai hari kita dengan merenungkan sebagian dari firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Namun sebelum itu, mari kita persiapkan terlebih dahulu hati kita melalui pujian berikut…

—– ( lagu ) —–

Saudara-saudara sekalian yang dikasihi Tuhan, bagian dari Alkitab yang akan kita renungkan pagi ini adalah Yakobus 4 : 1-17. Saya ulangi, Yakobus 4 :1-17. Mari kita baca bersama-sama..

4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.
4:5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”
4:6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
4:7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!
4:8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!
4:9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita.
4:10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.
4:11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.
4:12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?
4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,
4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”
4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Saudara-saudara sekalian yang dikasihi oleh Tuhan,

Seberapa sering kita melibatkan Tuhan dalam hidup kita ? Setiap saat ? Ataukah hanya ketika kita merasa hidup kita sedang terbeban berat ?

Banyak orang yang ingat akan Tuhan hanya ketika sedang merasa hidupnya berat. Tak jarang, Tuhan hanya menjadi semacam pelarian bagi orang2 yang sedang berada dalam masalah. Begitu masalah2nya selesai, orang lupa lagi pada Tuhan. Besok lagi, kalau ada masalah lagi, baru datang lagi pada Tuhan. Masalah selesai, lupa lagi sama Tuhan. Malahan, ada juga orang yang merasa beban hidupnya teramat sangat berat, lalu menyalahkan Tuhan, katanya, “Tuhan, mengapa Kau berikan cobaan yang teramat berat bagi anakmu ini ?” sambil nangis bombay.

Saudara-saudara sekalian yang dikasihi Tuhan,

Pagi ini, melalui Yakobus 4 : 1-17, kita belajar bahwa manusia memang mempunyai keinginan. Sayangnya, manusia lebih sering dikuasai oleh keinginannya ketimbang menguasai keinginannya. Manusia mengejar segala sesuatunya, untuk memenuhi semua keinginannya. Dan sayangnya lagi, keinginan manusia itu tidak memiliki batas. Pengen punya hape, akhirnya bisa beli hape, lalu pengen punya yang lebih bagus lagi. Malu kalo ada teman yang punya hape yang lebih bagus daripada miliknya. Pengen punya motor, akhirnya bisa beli motor, lalu pengen punya motor yang lebih kencang lagi. Biar nggak kalah kalo kebut2an di jalan. Pengen punya rumah, akhirnya bisa beli rumah lagi, lalu pengen punya rumah yang lebih gede lagi, lebih nyaman lagi, yang ada halamannya luas, ada kolam renangnya, dll.

Manusia selalu punya keinginan, dan keinginan manusia itu tak terbatas. Dan ketika satu persatu keinginannya itu terpenuhi, manusia cenderung menjadi congkak, tinggi hati. Punya hape bagus, bangga. Punya motor bagus, lebih bangga lagi. Punya rumah besar, makin bangga lagi. Lambat laun, perasaan bangga yang bertumpuk-tumpuk ini berubah menjadi kesombongan. Padahal kita tahu melalui bacaan kita pagi ini, bahwa Tuhan menentang orang yang congkak, dan mengasihani orang yang rendah hati. Kerendahan hati adalah salah satu syarat penting untuk kita bisa dekat dengan Tuhan.

Dari bacaan kita pagi ini, kita juga belajar bahwa kita jarang melibatkan Tuhan dalam perencanaan kita. Ketika ada orang yang berdagang, ia merencanakan tahun depan ekspansi bisnis ke luar kota, buka cabang baru, lalu diperkirakan akan mendapat keuntungan sekian-sekian, di mana kita meletakkan Tuhan dalam perencanaan kita ? Sekarang sedang musim persiapan orang mau ikut tes pegawai negeri, orang belajar mati2an, harapannya dia akan diterima sebagai pegawai negeri yang punya gaji tetap, di mana kita meletakkan Tuhan dalam perencanaan kita ?

Seringkali, kita datang pada Tuhan bukan ketika kita merencanakan, tapi ketika rencana kita itu gagal. Kita punya rencana untuk anak kita, biar bisa sekolah tinggi, kita tidak melibatkan Tuhan dalam perencanaan kita, lalu ternyata rencana kita gagal. Anak kita putus sekolah, atau hamil di luar nikah. Kita merasa gagal, baru kita datang kepada Tuhan. Begitu juga dengan rencana2 kita yang lain. Ketika bisnis kita terpuruk, kita baru datang pada Tuhan. Ketika kita tidak diterima ujian saringan masuk PNS, kita baru datang pada Tuhan. Itupun tidak dengan kerendahan hati, tapi dengan perasaan marah pada Tuhan. “Tuhan jahat. Tahukah engkau, Tuhan, aku sudah belajar mati2an. Hidupku dan masa depanku sangat tergantung pada pekerjaan itu, tapi mengapa Engkau tidak ijinkan aku mendapatkan pekerjaan itu?” begitu kata mereka. Orang lupa, bahwa satu syarat untuk mendekat pada Tuhan dan mengerti tentang Tuhan, adalah rendah hati.

Melalui bacaan kita pagi ini, kita juga diingatkan bahwa hidup kita ini memiliki batas waktu. Seringkali, kita merasa perlu untuk bersakit-sakit dahulu untuk mencapai senang kemudian. Kita menyiksa diri kita dengan berbagai macam hal yang tidak menyenangkan yang kita anggap sebagai pengorbanan demi mencapai kebahagiaan. Lagi, kita lupa melibatkan Tuhan dalam perjalanan pencapaian kita. Lalu ketika kita merasa baru saja mencapai puncak kebahagiaan kita, tiba2 kebahagiaan itu direnggut begitu saja dari kita. Ada orang pengen kaya misalnya, ia bekerja siang malam, tanpa peduli batas kesehatannya, dan akhirnya ia memang menjadi kaya. Tapi begitu ia merasa kaya, tiba2 badannya yang sedikit demi sedikit rusak karena terlalu lelah bekerja itu akhirnya benar2 rusak dan harus berobat yang biayanya tidak murah, orang itu menjadi kembali merasa menderita. Lalu datanglah ia pada Tuhan untuk mengeluh, “Tuhan, mengapa sih Tuhan sentimen banget sama aku. Orang baru mau bahagia lalu bersyukur, eh lha kok malah dikasih sakit parah.” Manusia lupa, bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.

Saudara-saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan,

Beruntunglah kita pagi ini membaca perikop tadi. Kita diingatkan di ayat ke-15 bahwa seharusnya, kita melibatkan Tuhan sejak dalam perencanaan kita. Dalam setiap perencanaan, yakinkan bahwa rencana itu akan terjadi jika Tuhan menghendakinya. Bukan berarti kita pasrah bongkokan pada Tuhan, lalu kita sepenuhnya berserah lalu tidak punya keinginan dan lalu tidak berusaha. Tidak ! Kita diingatkan, bahwa keinginan kita adalah sebuah alat untuk mendorong kita maju dan tumbuh berkembang menjadi lebih baik. Tapi kita juga diingatkan, bahwa apa yang kita rencanakan tidak selalu akan berhasil terjadi persis seperti apa yang kita harapkan. Ada kalanya, rencana kita itu terhambat di tengah jalan, atau malah mungkin gagal sama sekali. Kalau kita melibatkan Tuhan dalam perencanaan kita sejak awal, kita percaya bahwa semuanya yang terjadi atas kehendak Tuhan, kita akan tetap punya harapan. Tuhan kita Tuhan yang baik. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, terjadi untuk suatu alasan yang baik. Dengan syarat, kalau kita punya keinginan untuk maju dan berkembang. Orang malas yang tak punya keinginan maju, silakan ke laut aja.

Kalau kita punya rencana hidup, tujuan hidup yang jelas, lalu kita melibatkan Tuhan sejak perencanaan kita, maka ketika rencana kita itu gagal, kita akan bisa tetap punya pengharapan, karena kita percaya bahwa kegagalan itu terjadi karena rencana Tuhan dan Tuhan punya rencana yang lebih indah daripada rencana kita. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” kata TUHAN melalui Nabi Yeremia. Melalui setiap kegagalan yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan punya rencana yang lebih indah daripada rencana kita. Oleh karena itu, bukalah mata kita, tetap rendah hati, dengarkan suara Tuhan, belajarlah dari setiap kejadian yang terjadi dalam hidup kita. Prasangka baik yang kita miliki terhadap Tuhan, akan memampukan kita untuk terus tegak berdiri. Satu peluang sukses tertutup, seringkali kita terlalu meratapinya sampai kita tidak melihat bahwa pintu2 lain mulai terbuka lebar.

Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan,

Pagi ini kita belajar, bahwa adalah suatu hal yang normal manusia mempunyai keinginan untuk tumbuh, maju dan berkembang. Tapi pagi ini kita juga belajar untuk selalu melibatkan Tuhan sejak perencanaan kita, supaya ketika kita mengalami suatu masalah pada rencana kita, kita tak lagi berujar pada Tuhan, “Tuhan, aku punya masalah yang besar” tapi kita akan bisa dengan tegak berdiri dan berkata, “Hai masalah, aku punya Tuhan yang besar !”

Ingatlah selalu, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, terjadi untuk suatu alasan yang baik. Selamat pagi, selamat menjalani hari ini bersama Tuhan.

Sampai bertemu lagi dengan program renungan pagi Setetes Embun besok pagi, di jam dan gelombang yang sama. Tuhan memberkati.

—– ( lagu lagi ) —–

Gambarnya Julia Roberts. Kagak nyambung ya gapapa, wong ini materi buat siaran di radio, jadi gambarnya tetep ndak bakal keliatan. Hahaha..

Oh Tuhan tolonglah, aku cinta, aku cinta, aku cinta diaaa…. :D

Survei membuktikan

  • 19,823 perempuan bilang kalo aku ini adalah tipe pria idaman wanita

NetworkedBlogs

Arsip Tulisanku di Sini

RSS Sekilas Postingan2 Terakhirku

  • Balada Si Dee, Si Celana Dalam Penjaga Burung
    Bermula dari sebuah pabrik, ia, sebut saja Si Dee, memulai petualangannya. Terjalin dari ratusan helai benang ia mulai mewujud menjadi di dunia ini. Tanpa bisa memilih menjadi apa dan berwarna apa, ia terlahir sebagai sebuah… celana dalam. Dan inilah kisah petualangannya… Terdiam dalam sebuah kotak karton bermuka plastik transparan bersama dua kawan sekotakn […]
  • Just An Archive Of My Opinion About Heaven, Hell, Life, Jesus, And The Purpose Of Life
    Otak manusia dirancang hanya untuk mencari nikmat dan menghindari sengsara. Manusia itu makhluk emosi. Pikiran dan pengetahuan tidak menggerakkan manusia. Emosilah yang menggerakkan manusia. Segala macam peraturan yang dihubungkan dengan rasa takut kesengsaraan dan iming2 kenikmatan hanyalah sebuah cara untuk menggerakkan manusia menuju sebuah tujuan yaitu m […]
  • Ruang Rindu
    Ada empat ruang di jantungku Satu ruang untuk diriku, satu ruang untuk Tuhanku, satu ruang untuk ibuku Kusisakan satu ruang di jantungku untukmu, agar kelak ketika kita kembali bertemu kau bisa menemuiku di situ memeluk mencium mencumbuku sepuasmu Kusebut ruang itu sebagai ruang rindu…
  • Berpikir Dengan Logika Konsumen
    Pelajaran apapun bisa didapat kapanpun, di manapun. Seperti tadi, pagi-pagi aku sudah mendapat satu pelajaran lagi tentang bisnis. Begini ceritanya. Jengjeng… Pagi ini, mesin produksi utamaku mati. Ndak tau kenapa. Bongkar mesin, ternyata ada kabel yang putus. Kusambung, eh ternyata tetep ndak idup. Akupun langsung mencari testpen untuk mengetest kelis […]
  • Segala Sesuatu Yang Terjadi Dalam Hidup Kita, Terjadi Untuk Suatu Alasan Yang Baik
    ( materi siaran renungan pagi Setetes Embun buat besok pagi di Mitra FM 107.7 MHz, Radione Wong Cilik.. ) Selamat pagi, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Kita bertemu lagi dalam program renungan pagi Setetes Embun di Mitra FM ini. Pagi ini, kita akan memulai hari kita dengan merenungkan sebagian dari firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. [...]
  • Status Palsu
    Bukan, ini bukan tentang lagunya Vidi Aldiano yang judulnya sama dengan judul tulisan ini. Ini adalah tulisan tentang gejala yang terjadi di facebook yang pernah kualami sendiri, dan sekarang -semoga aku salah- banyak menghinggapi teman2 di facebook. Kalau Karl Marx berkata bahwa agama adalah candu, maka bila dia masih hidup di jaman ini mungkin dia juga [.. […]
  • Pengalaman Pertama Belanja Online ! ^^
    Seminggu yang lalu, aku niat mau cari hape baru buat menggantikan Nokia 3210 classic-ku yang menggemaskan. Menggemaskan karena selama ini aku pake Sony Ericsson. Menurutku, menu2 di Nokia tu bruwet, rumit, ruwet, enggak simpel kayak Sony Ericsson. Alasan lainnya, aku nggak puas dengan music playernya Nokia. Headsetnya Nokia kan bukan model yang masuk ke luba […]
  • I’m Berlin Sianipar. I love Myself, and I Love My Life :)
    Malaikat Gabriel datang padaku dan bertanya, “Kamu kuberi kesempatan untuk memilih hidup sebagai seseorang yang kaupilih. Kamu boleh pilih hidup sebagai Pangeran Kelantan, Raja Brunei, Presiden Obama, Bill Gates, Warren Buffet, Sergey Brien, Larry Page, Donald Trump, siapapun. Sebutkan saja, dan dalam sekejap aku akan menjadikanmu menjadi orang yang ka […]
  • Star Trek, eh, Star Troopers, eh, Star Wars, eh, …
    Darth Vader : Luke, I am your father… *begaya serem* Lucky Luke : EH, SAPE LU ! NGAKU-NGAKU ! BABE GUE TUH KARDIMAN WIRYODIMEDJO ! EMANG LU KIRE DULUNYE NYAK GUE CEWEK APAAN ??? Darth Vader : … Jangkrik : Krik krik
  • Catatan Mimpi (1) : Aku Sudah Di Rumah…
    27 Mei 2009 Tadi malem mimpi, gini… Aku merasa sedang berada di kota Salatiga. Aku pengen pulang ke rumah di Purworejo naik bis. Untuk itu aku harus berjalan ke jalan tempat bis biasa lewat. Sampai di tempat nyegat bis, aku menunggu bis lama banget. Kendaraan rame banget, ampe macet. Maklum, tempatnya di dekat sebuah perempatan lampu merah. Herannya, b […]
  • Juragan Sendok
    Mbak-mbak penjual yang montok (MMPYM) : Mas, Milo-nya ditambahi gula, mas? Pembeli : Iya, mbak. MMPYM : Sendoknya berapa gelas, mas? Pembeli : Satu aja mbak, biar nggak kemanisen. MMPYM : Eh… Pembeli : Eh…
  • Namanya “Konvergensi”
    Sebuah iklan di radio : A : Cil, kamu tau nggak, toko handphone ‘X’ ? B : O, yang jual SUSU KUDA LIAR itu ya? Krik.. Krik…
  • Suku Paling Durhaka
    Orang Jawa punya PASAR HEWAN, menjual berbagai macem HEWAN… Ada juga PASAR BURUNG, menjual berbagai macem BURUNG… Trus ada lagi PASAR KEMBANG, menjual berbagai macam KEMBANG, baik itu kembang mawar maupun kembang desa… Orang Batak? Orang Batak punya PASARIBU, menjual berbagai macem … Durhaka ! Jlegeeer…. Kena sambar petir ! *mun […]
  • Darwin dan Berkat Tuhan yang Selalu Indah Pada Waktunya
    Darwin : Tuhan, aku pengen handphone buat kontak2an sama profesor2 yang lain gitu.. Yang murah aja koook… Tuhan, kabulkan permintaanku ya? Tuhan : Darwin, maukah kamu menunggu sampai bulan depan? Darwin : Ya Tuhan, aku mau.  Sebulan kemudian, Tuhan memberikan sebuah Blackberry kepada Darwin melalui seorang koleganya yang lagi dapet rejeki… Darwin […]
  • Istri baru…
      Just a little update :    Aku udah cerai sama Indosat M2 yang cuma bisa bikin kesel. Bener kata temen, IM2 itu singkatan dari Internetnya Macet Macet. Hehe… Nah sekarang, aku pake Telkomsel Flash unlimited. Speednya wuz wuz wuz… soale di daerahku dapet sinyal 3G, atau minimal EDGE. Dengan biaya yang 30% lebih mahal, aku dapet kecepatan 400% [.. […]

Papan Visi

TOSHIBA QOSMIO X305 [IMG]http://i498.photobucket.com/albums/rr347/berlinsianipar/qosimo-x305-open-back.png[/IMG]

 

Februari 2010
S S R K J S M
« Des    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728