Posted by: g o b e r on: Desember 10, 2008
Aku mempunyai seorang kekasih bernama Anti. Kecil, manis, imut, lucu dan menggemaskan. Sekilas di mataku dia nampak seperti seorang malaikat kecil. Hanya saja, satu hal yang aku tak pernah mengerti adalah, aku tak pernah mendengar dia kentut.
Kentut memang multi tafsir. Bagi Anti, kentut adalah suatu hal yang menjijikkan, njelehi, mengundang seluruh emosi negatifnya keluar, tak peduli walau yang kentut adalah aku, kekasihnya sendiri. Buatku pribadi, kentut adalah sebuah hal yang amat sangat patut untuk disyukuri. Aku tidak bisa membayangkan seandainya ada seorang manusia yang mengalami suatu cobaan mahadahsyat dari Tuhan atau dari Iblis yang membuat dia tidak bisa kentut sama sekali. Pastilah dia akan amat sangat menderita. Oleh karena itulah, aku mengembangkan sikap selalu bersyukur termasuk dalam hal kentut mengentut ini.
Perbedaan pendapat dan tanggapan terhadap kentut ini memang kerapkali membawa perseteruan yang cukup serius bagi Anti dan diriku sebagai kekasihnya. Kadangkala ketika kami sedang melakukan hal yang romantis semisal menonton sinetron bersama, atau memasak mie instan bersama, atau mencium kekasih bersama, dia bisa menjadi sangat emosional dan berbalik 180 derajat menjadi sosok mahkluk yang penuh dengan amarah ketika aku melakukan satu hal yang sangat dia benci : kentut. Sekonyong-konyong dia akan berlari meninggalkan diriku sendirian dalam keterpanaan dan kebingungan, ‘Apa salah dan dosaku?’ Senyum di bibirnya yang imut akan berubah menjadi seperti gunung berapi yang siap memuntahkan segala macam caci maki sumpah serapah yang akan mengutuk Malin Kundang dari batu menjadi onggokan kotoran babi. Dan jangan harap dia akan kembali mesra kalau tidak kuberi pelukan hangat yang penuh dengan kasih sayang. Ah, Anti… Aku masih belum bisa mengerti kenapa Anti tidak juga mensyukuri kentut yang keluar dari tubuh orang lain…
Anti, sangat membenci kentut. Sangat. Saking bencinya dia pada kentut, sampai2 timbul pertanyaan di hatiku, apakah Anti memang tidak pernah kentut sehingga dia tidak bisa mensyukuri setiap kentut yang keluar dari tubuh siapapun? Aku pernah mengajukan pertanyaan itu padanya, dan dia mengaku bisa kentut tapi tidak pernah berbunyi nyaring seperti kentutku. Oke lah, mungkin memang kentutku berbunyi keras, tapi bukankah dalam fisika dikenal adanya Efek Doppler yang berbunyi ‘Kerasnya bunyi kentut berbanding terbalik dengan bau yang ditimbulkannya’?
Suatu kali, Anti pernah berkata kepadaku sambil berbisik-bisik, “Yang, aku tadi di kamar mandi kentut berbunyi. ‘Duut..’ gitu. Aku langsung ingat kamu…”
Baguuus… Jarang-jarang kentut berbunyi, sekalinya dia kentut berbunyi langsung teringat pada diriku. Baguuss…. *nangis*
Anti, aku ingin kamu tahu, kentut adalah sesuatu yang illahi, sama seperti kehidupan ini. Kita patut mensyukuri kentut seperti halnya kita patut untuk mensyukuri kehidupan ini. Anti, kuharap kamu mengerti, cintaku padamu tak pernah berkurang walaupun aku sering kentut di dekatmu. Dan ketahuilah, kentut bukan sesuatu yang haram di mataku hingga kamu merasa harus menyembunyikannya dariku. Kentutlah sayang, dan aku akan semakin mencintaimu. Kentutlah sesering kamu mau, asal jangan bau. Bau boleh, asal jangan banget-banget. Banget boleh, asal jangan sering-sering. Kentutlah sayang, aku mencintaimu.
Dedicated to Bung Richardus H. Semoga mendapat pencerahan dari tulisan yang nggak penting serius ini.
Ah, Anda pandai berfilosofi. Tulisan tentang kentut ini bagus lho.
Ups! Nggak sengaja kentut *_^
Berarti saya udah bisa nulis buku kayak Dee ya? Judulnya FILOSOFI KENTUT. Hehehe…
Umph!!! Bau kentut!!! Sampeyan kentut ya Mas??? ^_^
Desember 11, 2008 pada 1:02 pm
Walaupun aku sering kentut bikin orang bubar, tapi baca ginian jadi eneg juga..