Posted by: g o b e r on: Desember 20, 2008
Di dunia pramuka mempramuka ada dua macem simpul mati. Ada simpul mati sejati dan ada simpul mati palsu. Trus tukang pramuka yang jarang masuk ada juga yang bikin model simpul mati yang baru yang dinamain simpul mati konyol. Nyengehehe.. Konyol karena jadinya malah bruwet gak jelas gitu.
Nah di dunia cinta mencinta terspesialisasi di bidang korban mengorbankan, eh, pengorbanan, ada juga yang macem itu. Ada pengorbanan sejati, ada pengorbanan palsu dan ada pula pengorbanan konyol. Pengorbanan sejati itu pengorbanan yang bener2 tulus dari dalam hati tanpa mengharap imbalan apapun. Pengorbanan palsu ya jelas pengorbanan yang ada udang di balik bakwan. Kira2 mirip dengan pengorbanan para politikus lah gitu. Na trus pengorbanan konyol? Pengorbanan konyol itu kayak yang kulakukan kemaren dulu. Begini ceritanya…
Malem itu, aku sama yayangku makan malem berdua di rumahku. Bukan, bukan candle light dinner. Selain karena emang nggak mati lampu, juga sekarang kan udah model baru pake lampu darurat yang langsung nyala kalo lampu mati. Jadi nggak perlu lagi lah candle light dinner. Kuno atuh… Malem itu kami makan malem dengan lauk yang sederhana. Sayurnya aku lupa, tapi yang jelas ada makanan kesukaan manusia Indonesia yang tak tergoyahkan oleh makanan2 impor, yaitu… KERUPUK…
Sebagai penggemar berat kerupuk yang dimakan pake nasi putih hangat dikasih kecap (sllrrruuup…), diriku tak menyentuh sayur dan lauk yang ada di meja. Sementara itu yayangku makan apa saja yang ada di meja. Bahkan kalau tidak kucegah dia bakal makan juga tuh serbet yang ada di depannya.
Kami berdua makan tanpa bicara. Bukan tidak mesra, tapi daripada terjadi perang peluru nasi nyasar ke mata, jadi mendingan diem. Aku makan dengan nikmatnya. Nasi putih hangat, kecap dan kerupuk.
Nasiku tinggal sedikit, sedangkan kerupuk di tanganku udah ampir abis. Kulihat di meja kerupuk dalam plastik tinggal sebiji. Hati ini udah tak sabar rasanya menghabiskan kerupuk di tanganku untuk kemudian mengambil kerupuk yang tinggal semata wayang itu.
Gigitan terakhir kerupuk di tanganku, eh ternyata si yayang dengan tak tahu diri tanpa merasa bersalah mengambil si kerupuk semata wayang itu. Hiks… Duh, nasiku masih dikit, dan aku musti makan tanpa kerupuk nih. Haduuuuuh… Sebagai seorang kekasih yang sangat setia dan penuh pengorbanan, aku pun dengan berat hati tanpa berkata2 merelakan si kerupuk kesayangan itu dimakan oleh kekasihku tersayang. Nasiku yang tinggal sedikit kuhabiskan dengan perasaan campur aduk. Antara kesel, ndongkol, masih pengen makan kerupuk, tapi kudu mengikhlaskan si kerupuk untuk sayangku tercinta. Duh… Hiks… Tiap kali terdengar suara kerupuk yang digigit oleh yayangku, aku hanya bisa membayangkan rasanya sambil menghabiskan nasi kecapku. Duh, kerupukku sayang kerupukku malang…
Makan malam usai. Aku masih berada di batas antara pengorbanan sejati dan pengorbanan palsu. Aku masih pengen makan kerupuk, tapi nggak lucu dong kalau aku merebut kerupuk tadi dari tangan pacarku. Egois banget kan? Yah, sudahlah… Sementara itu lidahku masih saja mengingat rasa kriuknya kerupuk dipadu dengan nasi kecap tadi. Aku masih belum ikhlas…
Habis makan, kami nonton sinetron. Dan untuk itu kami harus menghadapkan kursi kami ke arah televisi. Dan pemandangan yang kulihat begitu amat sangat menohok hati dan perasaanku. Rasa menyesal, geli geli basah, ndongkol, mangkel, asem, kecut, bercampur aduk lagi menjadi satu adonan yang disebut sebagai pengorbanan konyol. Guess what? Di ujung jauh meja makan, tergeletaklah DUA BUNGKUS KERUPUK YANG MASIH UTUH! JAAAAAAAH…..
Pengorbananku… Pengorbanan yang tidak ikhlas… Pengorbanan atas kerupuk yang diatas namakan cinta… ternyata… adalah… pengorbanan yang konyol… Duhhh…
Aku : NHA ITU MASIH ADA KERUPUK????!!!!!
Yayangku : *dengan muka polos sok nggak bersalah* Kan tadi aku udah bilang…
Aku : JAAAAAAAAAH……….
Pelajaran hari ini adalah, jika kamu ingin mengorbankan kerupukmu demi cinta, yakinkan dulu kalau kerupuknya sudah benar2 habis…
Yang ninggalin jejak di sini