Posted by: g o b e r on: Desember 29, 2008
Sebelumnya, perkenankan aku mengaku dosa terlebih dahulu. Saat ini aku sedang melakukan hal yang sangat dilarang oleh agama karena sangat melanggar kesusilaan dan kesopanan. Saat ini, aku sedang ngeblog, pake kaos ijo, kaos dalem putih, dan celana dalam coklat. Thok. Tanpa celana. Mahahahaha…
Wait, wait, wait, jangan keburu berpikiran buruk dulu. Celanaku agak basah, nggak enak dipake. Maklum, habis tour de Jogja. Agak gerimis dalam perjalanan pulang, tapi cuma bentar. Tadinya si nggak kerasa kalo celanaku basah, tapi begitu duduk lama2 kok makin gak enak. Lembab. Nah berhubung diriku lagi jauh dari lemari bajuku di rumah, mendingan aku half naked daripada kudu menahan lembab. Hiy, bisa2 onderdil dalemku lumutan. Hehehe… Oleh karena itulah, jadi mohon maaf kalo postingan kali ini agak2 gimana gitu. Tapi semuanya tergantung dari sudut pandang kita masing2 kok. Kata seorang teman, di dunia yang abu2 ini terserah kepada kita mau memandang dari sisi putih atau sisi hitam. Yah begitulah. Setengah telanjang memang merupakan perkara yang filosofis juga. Hmm…
Eniwei, hari ini aku tilik2 orang sakit di Jogja. Di Bethesda, aku tilik Bapak Syatsamhadi Banter, seorang musisi, organis gereja dan ayah seorang, eh, dua orang teman ding, Eva dan Maya. Beliau tadinya sakit gula trus gara2 nyoba minum ramuan obat alternatif yang katanya manjur, mahal pula. Eh ternyata obat itu malah bikin ginjalnya jadi nggak berfungsi. Cairan di tubuhnya jadi ke mana2 dan tubuhnya jadi bengkak. Hari ini sudah hari ke-35 beliau dirawat di Bethesda. Udah menjalani beberapa kali penyedotan cairan dalam tubuh dan puji Tuhan, hari Selasa esok beliau sudah boleh pulang. Thanks God.
Lesson learned : Hati2 sama yang namanya pengobatan alternatif. Walaupun ada juga yang bagus, tapi semua kudu musti melalui cek dan ricek, juga review dari pasien2 yang udah pernah berobat ke sana. Usahakan cari pengobatan alternatif yang bonafid dan berijin. Salah2 bukannya sembuh malah fatal akibatnya.
O iya, tadi begitu masuk lorong paviliun Hibiscus tempat Pak Syam dirawat, ternyata lorong itu dihias dengan kertas2 emas dll, dan di ujung lorong terdapat dekorasi Natal kayak di gerej2 lengkap dengan pohon natalnya. Ternyata emang ada perlombaan menghias paviliun yang diadain pihak rumah sakit dan diikuti oleh perawat2 di masing2 paviliun. Ceria bener. Jadi ngerasa gimana gitu. Heehee… Daaan… Seperti umumnya banci2 kamera kalo nemuin G-Spot (Good Spot dodol, bukan G-Spot yang itu…) buat foto2, akupun bergaya di depan dekorasi itu. Sekali setahun boleh kan numpang narsis2 dikit di rumah sakit. Hehe…
Next, aku ke Panti Rapih. Ponakanku, si Noel anaknya Mbak Nella, sakit DBD. Maunya mudik eh malah sampe Jogja langsung mondok. Terpaksanya liburan di rumah sakit deh.
Waktu nyari ruangannya si Noel, aku bingung karena cuma dikasi tau nama paviliunnya. Nanya ke Bu Suster yang lagi nggak ngesot, dan terjadilah percakapan ini :
Aku : Bu, mau tanya ruangannya Noel yang nomer berapa ya?
Bu Suster : Noel? Nama lengkapnya sapa ya?
Aku : Nha itu dia. Saya juga nggak tahu Bu. Pokoknya Noel gitu. Hehe..
Bu Suster : Umurnya?
Aku : TIGA tahunan gitu lah.
Bu Suster : Mmm.. Ini ada Emanuel, tapi umurnya LIMA tahun. Alamatnya Purwanggan?
Aku : Nha ya itu dia Bu. *buset, ternyata si Noel udah 5 tahun! Berarti Noel bertambah tua lebih cepat dari aku. Aku aja cuma nambah setahun sejak ketemu dia, eh dia udah nambah 3 tahun. Wah, bisa2 kelak si Noel nyusul aku nih umurnya.*
Bu Suster : Kamar nomer 211, Mas. *bego lu.*
Dan masuklah aku ke kamar 211 itu, ketemu sama Noel, mbak Nella n mas Didik. Si Noelnya meringkuk di tempat tidur menahan sakit di perutnya. Ternyata selain DBD juga kena disentri. Duh kacian si Onel. Dah kurus, sakit lagi. Kapan gemuknya kamu, Nel?

Noel, biarpun diinfus tapi tetep semangat nggambar
Herannya, waktu tantenya datang (adiknya mas Didik) mbawa buku gambar n pastel warna, si Noel langsung bangun dan dengan semangat 45 dia langsung MENGGAMBAR ! Set dah ni anak. Ternyata dia hobi banget nggambar. Dengan tangan imutnya yang ditusuk jarum infus, Noel menggambar gambar yang menunjukkan padaku betapa dunia ini sudah berubah. Dulu kan yang namanya anak kecil nggambar pasti gambarnya gunung dua trus ada mataharinya trus dikasi jalan n ada sawah2nya. Nah ini si Noel nggambar rumah, pohon, awan, matahari, rel kereta, dan kertasnya dipenuhi warna. Dia nggak mau berhenti sebelum warnanya penuh walaupun tangannya udah pegel n katanya kepalanya sakit. Pokoknya gambarnya Noel menginjak2 harga diriku yang dulu cuma bisa ngegambar gunung kembar doang. Hehehe… Malah Noel sambil ngegambar sambil cas cis cus pake bahasa Inggris yang cukup lancar. Wah, kubayangkan kalo besok anakku umur segitu udah cas cis cus bahasa Inggrisnya, palingan bapak ibunya cuma njawab, Yes! Yes! I love you! F**k you! Ngah.. Hehehe…
Lesson learned : Berarti gue masi punya PR banyak buat belajar jadi ortu yang baek sebelum gue nikah n telanjur punya anak. Bisa berabe anak gue kalo jadi kelinci percobaan bapaknya yang lagi belajar mendidik anak. Bisa2 jadi ancur anak gue nantinya. Hehe…
That’s it. Semoga Pak Sam dan Noel cepet sembuh. Tuhan memberkati kalian semua dan keluarga.
Januari 19, 2009 pada 10:46 am
Baru saja saya menyapa anda dan teman-teman lainnya dalam sebuah karya saya. Tanpa bertanya terlebih dahulu, saya telah mencantumkan nama anda di dalam deretan nama-nama yang ada. Semoga anda tidak berkeberatan. Dan apabila ada kesalahan dalam penulisan nama anda mohon beritahu ke kami, maka kami akan segera memperbaikinya. Saya juga telah membaca karya anda yang terbaru. Indah dan penuh makna. Saya dapat melihat keseriusan anda dalam tulisan ini. Salam untuk anda dan selamat berjuang, tetap semangat.