Posted by: g o b e r on: Maret 30, 2009
“Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyebut nama-Nya…”
Sepenggal baris lagu yang dinyanyiin Chrisye itu kupikir salah satu karya brilian. Enggak tau siapa yang nyiptain, tapi kurasa itu benar2 brilian.
Seringkali kita beragama bukan karena kita benar2 ingin menghayati apa makna kehidupan ini, mencari tahu siapa dan apa diri kita yang sebenernya. Diakui atau tidak, sebagian besar dari kita beragama karena kita dilahirkan dalam keluarga yang beragama itu. Kita beragama Kristen karena lahir di keluarga Kristen, kita beragama Islam karena kita lahir di tengah keluarga Islam, kita beragama Hindu karena kita lahir di keluarga Hindu, de es te. Sangat jarang dari kita yang berani melangkah ke luar, melihat ke luar rumah apa yang sebenernya terjadi, melihat rumah kita sendiri bagaimana rupanya bila dilihat dari luar rumah, melihat apakah memang tembok2 rumah kita, genting rumah kita, sudah terlihat usang bahkan rusak seperti yang dikatakan orang lain yang lewat di depan rumah kita, bla bla bla.
Kenapa kita enggak pernah berani keluar dari rumah kita? Salah satunya adalah karena sejak kecil kita diajari tentang konsep Surga dan Neraka secara sempit. Apalagi kalau kita belajar dari agama2 ciptaan manusia, termasuk yang diklaim sebagai agamanya Tuhan.
Konsep Surga dan Neraka itu tanpa sadar telah membentuk kita menjadi orang2 yang tertarik ke kutub ekstrim pemahaman tentang Tuhan dan keberadaan kita di dunia ini. Dengan bahasa yang sangat tinggi dan terdengar seperti bahasa langit, orang diajari untuk takut masuk neraka dan menginginkan surga. Dan ketika orang buta menuntun orang buta berjalan, maka hasilnya adalah mereka sama2 kecebur dalam pemahaman yang salah tentang Surga dan Neraka itu. Mereka menjadi SANGAT takut masuk neraka dan SANGAT menginginkan surga. Di titik inilah manusia menjadi kehilangan akal sehatnya. Di titik inilah manusia membengkokkan kebenaran menjadi berpihak kepada keinginannya sendiri, keinginan untuk masuk surga dan tidak masuk neraka, tanpa peduli apakah memang konsep yang mereka pelajari itu benar2 real dan benar.
Neraka berada pada kurva yang sama dengan Surga pada sisi lengkung yang berbeda. Pemahaman sempit tentang surga dan neraka telah menyentuh dua sifat dasar manusia yang sangat sensitif dan telah dimanfaatkan oleh orang2 marketing untuk meningkatkan penjualannya ribuan persen, yaitu FEAR dan GREED. KETAKUTAN dan KESERAKAHAN. Sayangnya, tidak hanya orang2 marketing yang memanfaatkannya, tapi juga pemuka2 agama yang jualan agama tertentu. Orang ditakut2i tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui benar, sehingga tertarik oleh FEAR mereka tentang neraka berikut GREED mereka kepada surga. Tak peduli lagi apakah tindakan2 yang mereka lakukan berdasar agama itu benar sesuai dengan rasa kemanusiaan, yang penting enggak masuk neraka dan masuk surga, gitu aja. Dan pembunuhan pun dihalalkan demi Tuhan yang mereka sembah. Buset.
Kalau kita bertanya kepada diri kita sendiri, buat apa sih kita beragama? Buat apa sih kita hidup? Kalau jawaban kita : biar kita masuk surga, kita hidup untuk menyembah Tuhan, bla bla bla, mungkin saatnya kita bertanya lagi kepada diri kita sendiri :
“Kalau Surga dan Neraka tak pernah ada, apakah aku akan tetap mau mengenal Tuhan?”
Beragama yang bener akan membawa orang lebih banyak berdialog dengan dirinya sendiri, dengan Tuhan dalam dirinya, dan outputnya, orang akan mengeluarkan sifat2 Tuhan dalam setiap detail kehidupannya. We know that beragama bukan tentang apa yang masuk ke dalam otak kita, ke dalam pengetahuan kita, tapi tentang apa yang keluar dari hati dan pikiran kita, tindakan nyata yang keluar dari diri kita.
Ketika beragama itu tidak membuat manusia semakin manusiawi, patut kita bertanya benarkah apa yang sudah diajarkan oleh pemuka2 agama itu? Kalau memang apa yang dikatakan pemuka2 agama itu kita rasa enggak bener, perlulah kita mencari pemuka2 agama yang lain untuk mendengar second opinion mereka. Kalau ternyata semua pemuka agama dari agama itu berkata serupa yang ternyata tidak sreg dengan rasa kemanusiaan kita, mungkin sudah waktunya kita keluar dari rumah kita, melihat apakah memang benar rumah kita itu sejelek yang dibilang orang, trus kalo memang iya dan masih bisa diperbaiki ya kita perbaiki. Kalo enggak? Ya pindah rumah aja…

FEAR and GREED devil
Enggak punya rumah? Enggak masalah kan?
“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
hai
Menurut aku gan,semua orang punya satu tugas pokok agar menjadi manusia terbaik dan terbenar menurut Tuhan,nah disinilah semua orang berproses melalui berbagai macam cara dan srtategi termasuk berbagai agama,lantas siapa yang terbaik?yang merasa belum baik walau senantiasa berusaha berbuat sebaik mungkin,dunia tempat berproses menjadi yang terbaik………
Maret 30, 2009 pada 11:25 am
wah… blog nya bagus ya kak
kunjungi blog saya ya kak
yantysa.wordpress.com
————————————-