Posted by: g o b e r on: Mei 2, 2009
Hari ini, 2 Mei, adalah Hari Pendidikan Nasional. Entah kenapa, pagi ini mungkin aku kesambet arwahnya Ki Hajar Dewantara sampai aku pengen banget posting tentang pendidikan. Belom mandi, belum sikat gigi, belom keluar kamar, udah pengen nulis ini. Apa lagi namanya kalo bukan kesambet?
Friends, we know that education is a very important thing we must have these days. Tingkat persaingan hidup semakin tinggi, sementara kesempatan menghasilkan uang itu seringkali tidak tumbuh seimbang dengan pertumbuhan jumlah penduduk dunia.
Well, kalau aku ngomong kesempatan menghasilkan uang di sini, mungkin mayoritas kita mengasosiasikannya dengan kesempatan kerja. Tapi sebenernya bukan itu aja. Sekarang udah banyak anak kuliahan yang udah tahu bahwa menjadi bakul, pedagang, atau bos adalah juga pilihan yang kesempatannya selalu terbuka lebar. Kalo dulu emang orang yang lulus kuliah banyak gengsinya. Wong udah sekolah tinggi2, eh kok begitu lulus malah merintis usaha yang berangkat dari kecil, tertatih2 ampe sering diejek temen2. Tapi sekarang udah enggak lagi. Kita semua sudah tahu bahwa menjadi pengusaha walaupun kelasnya UKM tetap adalah sebuah pilihan yang menjanjikan pertumbuhan pendapatan yang tidak kalah bagusnya dengan menjadi karyawan sebuah perusahaan top.
Nah, hal2 seperti itu lah yang sepertinya sekarang sudah mulai ditumbuhkan di sekolah2 dan universitas2. Aku salut banget sama SMA yang udah mulai menerapkan sistem ambil dan bayar sendiri a.k.a Kantin Kejujuran yang melatih orang untuk mandiri dan jujur, sebuah syarat mutlak orang bisa hidup berhasil di masa depannya. Juga ketika banyak lembaga pendidikan, bahkan mulai tingkat SD, sudah mulai mengajarkan prinsip2 entrepreneurship pada anak didiknya. We know that entrepreneurship bukan cuma tentang niat jadi pengusaha, tapi membangun karakter anak yang tangguh, yang pantang menyerah, kreatif dan yang jeli melihat kesempatan dalam situasi paling sulit sekalipun.
Memang, tidak semua orang2 penting di dunia pendidikan sudah tahu tentang arti pendidikan. Kebanyakan masi berpegang pada pola pikir lama dan kuno yang menyebutkan bahwa anak belajar itu yang penting mengejar nilai. Nah pola pikir kuno inilah yang justru menjebak anak didik menjadi tidak mau belajar. Yang dikejar cuma nilai, sehingga merebak lah sistem perjokian di ujian saringan masuk perguruan tinggi, juga kebocoran2 soal ujian nasional yang ironisnya justru dilakukan oleh para guru dan kepala sekolah hanya untuk menjaga nama baik sekolahnya dengan mencetak angka kelulusan setinggi mungkin. Padahal, apa yang bisa ditumbuhkan dalam pribadi peserta didik kalau sistemnya saja korup?
In the end, menurutku tujuan puncak pendidikan adalah membentuk anak didik menjadi pribadi yang ingin terus belajar, belajar dan belajar. Dan pendidikan juga tidak hanya terbatas pada kemampuan2 intelegensia saja. Lebih dari itu adalah pendidikan harus mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dalam diri peserta didik, termasuk kemampuan bersosialisasi, karakter2 positifnya, kreativitas, kemampuan leadership, dan lain2nya lagi yang tidak tercakup dalam sistem pendidikan yang hanya mengejar angka2 saja.
Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membuat orang mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai manusia. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membuat orang menjadi INGIN untuk belajar sendiri tanpa tergantung apakah ada yang mau mengajar secara formal ataukah tidak. The lesson is everywhere, dan pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membuat orang mampu belajar dari manapun, dari hal apapun, baik itu hal positif maupun hal negatif.
Akhirnya, pendidikan tidak cuma melulu tentang sekolah dan kuliah. Masih ada buanyak sekali hal2 yang sangat menarik untuk dipelajari selain dari yang diajarkan secara formal di sekolah/universitas. Inilah yang akan membentuk orang menjadi komplit, sempurna sebagai orang2 yang terdidik. Titel hanyalah sebuah bagian kecil dari pendidikan, karena akhirnya ukuran orang terdidik atau tidak adalah karakternya dan perilakunya dalam kesehariannya menjalankan tugas dan pekerjaan yang diterimanya, baik itu sebuah jabatan formal dalam dunia kerja ataupun sebagai seorang pengusaha apapun kelas usahanya.
Selamat Hari Pendidikan Nasional !

Sergey Brin dan Larry Page, duo pendiri Google yang cerdas di kuliahan dan cerdas juga di dunia usaha

Bill Rancic, pemenang The Apprentice I, di final mengalahkan orang yang tingkat pendidikan formalnya lebih tinggi dari dia. Memulai bisnisnya sendiri pada umur 23 tahun, sekarang pemimpin anak perusahaan bernilai jutaan dollar milik Donald Trump
Salut deh…postingannya agak genah.
Mei 2, 2009 pada 12:56 pm
sudah waktunya kita mencadi manusia cerdas