Kebahagiaan hanyalah sebuah efek. Pikiran kitalah pelopornya.

Satu dari dua pertanyaan paling menyebalkan sepanjang masa ialah, “Kapan punya anak nih?” Dulu pernah nulis juga tentang itu tapi di blog yang udah kehapus. Untungnya masih terarsip juga di Kompasiana. Kalau pengen baca, silakan baca di sini >> Departemen Urusan Orang Lain.

Tapi bukan tentang itu lagi yang mau kuceritakan kali ini. Kali ini aku justru pengen cerita hal yang kebalikannya.

Hari ini aku senang karena entah mengapa, sepertinya orang-orang berubah. Kalau dulu orang sering nanya, “Kok belum punya anak?” “Kapan mau punya anak?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kadang bisa bikin naik darah, tadi pagi di gereja banyak orang yang justru mendoakan biar kami cepat punya anak. Malah Eyang Ton seusai kebaktian Natal tadi pagi mendatangi aku dan istriku. Beliau secara tulus mengungkapkan harapan dan doanya agar kami berdua segera memiliki keturunan. Malah beliau sepertinya tadinya ingin memberikan informasi perihal tempat pengobatan bagi pasangan yang ingin memiliki keturunan. Tapi ketika aku bilang bahwa kami sudah setahun lebih menjalani proses pengobatan baik secara medis maupun nonmedis dan hasilnya sudah membaik, jauh lebih baik, dan kami cuma minta doa Eyang supaya tahun depan kami sudah bisa menimang anak, Eyang Ton membatalkan niatnya memberi informasi tersebut lalu berkata, “Yo. Iso kok. Iso.” (Ya, bisa kok. Bisa.) Sesuatu yang sangat menenteramkan hati kami.

Aku dan istriku agak heran juga dengan perubahan orang-orang di sekeliling kami itu. Tapi kalau kurunut dari apa yang telah kupelajari selama ini bahwa segalanya berawal dari pikiran, kami berdua memang telah mengalami perubahan pikiran yang sangat drastis. Selama setahun kami bergumul dengan pengobatan secara medis yang belum juga membuahkan hasil, kami selalu takut tidak memiliki anak. Ternyata pikiran itu telah menarik segala sesuatu yang berhubungan dengan ketakutan tidak memiliki anak, termasuk orang-orang yang menyebalkan itu.

Namun setelah dua minggu lalu aku menjalani hipnoterapi, aku tahu bahwa problemku disebabkan karena pikiran bawah sadarku menghukumku karena aku memiliki sebuah kebiasaan buruk yang sulit kuhilangkan. Lewat hipnoterapi itu pula, aku mengetahui bahwa kebiasaan burukku itu muncul akibat trauma yang terjadi di masa kecilku ketika aku berumur empat tahun. Peristiwa itu sendiri sebenarnya tidak aku ingat, tapi traumanya ternyata begitu membekas dan membentuk kebiasaan burukku yang mengakibatkan bagian pikiran bawah sadarku yang lain menghukumku dengan menurunkan kualitas spermaku hingga tak mampu membuahi sel telur istriku.

Untungnya trauma itu sudah teratasi. Kebiasaan burukku itu sudah hilang sama sekali, dan aku sedang menunggu sebulan untuk pemulihan kualitas spermaku seperti janji pikiran bawah sadarku. Aku berharap awal tahun depan istriku sudah hamil.

Kondisi pikiranku yang sudah tenang, lepas dari trauma masa lalu dan memiliki harapan yang sangat kuat untuk segera memiliki keturunan itu ternyata juga menarik hal-hal yang berhubungan dengan itu. Ya seperti tadi pagi di gereja itu. Jadi banyak orang-orang yang mendoakan kami, sementara orang-orang yang menyebalkan itu kayaknya pada ngilang. Hehe

Ya begitulah. Ternyata memang apa yang diajarkan buku The Secret itu memang benar. Eh, btw, aku baru tahu setelah membaca bukunya Napoleon Hill yang judulnya Think And Grow Rich, bahwa isi buku The Secret itu sendiri sebenarnya bukan barang baru. Napoleon Hill sudah mengungkapkan dalam bukunya yang telah menjadi legenda klasik dalam bidang pengembangan diri, bahwa segalanya berawal dari pikiran kita. Malahan, Napoleon Hill sendiri mengatakan bahwa hal itu juga bukan dia yang menemukan, tapi rahasia itu telah digunakan oleh orang-orang hebat sepanjang masa. Ia hanya merumuskannya dan menuliskannya dalam sebuah buku. Sang Buddha 2500 tahun lalu juga telah mengajarkan begini,

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.

(Dhammapada 1:1)

Jadi memang harus terus menjaga pikiran tetap tenang dan perasaan tetap teduh. Nah tentang hal ini aku juga baru belajar satu teknik rahasia lagi untuk menjaga pikiran tetap tenang dan positif, emosi juga jauh lebih tertata. Efek lainnya, energi kita untuk menarik hal-hal yang kita inginkan bakal meningkat dahsyat. Tapi ini topik lain lagi. Besok kalo hasilnya sudah terlihat nyata, aku bagikan. Stay tune! 🙂

Kebahagiaan hanyalah sebuah efek. Pikiran kitalah pelopornya.
Kebahagiaan hanyalah sebuah efek. Pikiran kitalah pelopornya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s