Coli or not coli, that’s NOT the question

Warning: posting ini bakalan berisi hal-hal yang TMI (Too Much Information) dan khusus dewasa. Kalau anda belum dewasa atau tidak ingin mengetahui hal-hal yang sangat pribadi tentang diri saya, silakan berhenti membaca di sini dan tutup jendela browser anda. 

Coli. Sebuah aktivitas pria yang biasanya dilakukan untuk melepaskan tekanan naluri seks dari dalam diri yang berujung pada orgasme, puncak kenikmatan seksual yang ditandai dengan muncratnya sperma dari lubang kencing di ujung penis.

Tapi kita gak akan ngomongin soal coli. Juga gak akan ngajakin coli bareng-bareng. Saya cuma mau curcol tentang coli.

Saya punya masalah soal coli ini. Bukan, saya tidak (lagi) punya kebiasaan coli. Selain karena saya sudah punya istri yang artinya saya tidak harus menggunakan tangan saya untuk bisa mendapatkan kepuasan seksual, saya juga sudah menjalani terapi dengan hipnosis yang membuat kebiasaan coli saya hilang. Total? Tidak. Program yang ditanamkan dalam pikiran bawah sadar saya adalah, saya hanya bisa coli dalam tiga kondisi:

1. ketika istri saya sedang datang bulan

2. ketika istri saya sedang sakit

3. ketika salah satu antara saya atau istri saya sedang berada di luar kota

Selebihnya daripada itu, saya tidak bisa coli. Ya, saya ulangi lagi, TIDAK BISA. Bukan tidak mau, tidak ingin atau tidak boleh, melainkan TIDAK BISA. Heran? Saya sendiri juga heran. Tapi itulah yang terjadi pada saya. Tiap kali saya mau coli, saya hanya bisa membuat penis saya ereksi namun otak saya tak pernah mau melepaskan zat yang membuat saya merasakan kenikmatan dan akhirnya orgasme. Itulah dahsyatnya efek kerja pikiran bawah sadar. Dulu pikiran bawah sadar saya yang membuat saya memiliki kebiasaan coli, sekarang pikiran bawah sadar saya pula yang membuat saya tidak mampu coli.

Hal ini membawa beberapa dampak bagi saya. Dampak positifnya, saya jadi lebih intens dalam berhubungan seks dengan istri saya. Bagaimana tidak, biasanya kapan pun kepengen merasakan kenikmatan seksual, saya tinggal coli di kamar mandi. Sekarang, saya harus menunggu waktu untuk saya bisa berhubungan seks dengan istri. Sekalinya bercinta, pasti abis dah tenagaku. Biasanya jadi ngantuk pol seharian. Hehe

Dampak negatifnya ya itu, saya tidak bisa mendapatkan kenikmatan seks kapanpun saya mau. Meskipun istri saya adalah seorang ibu rumah tangga, tapi ia tetap punya kesibukan di toko kami. Jadi aku harus menahan gairah seksku hingga mendapat waktu yang cukup leluasa untuk bercinta dengan istriku di kamar. Quickie? Pernah juga. Tapi tidak senikmat kalo bercinta di waktu khusus. Maklum, perempuan itu kayak mesin diesel. Manasinnya butuh waktu lama. Sementara pria itu kayak mesin matic. Tinggal starter langsung tancap. Haha

Kondisi itupun masih ditambah lagi kalau istriku tidak merasa capek. Kalau ia sedang capek, aku tidak tega untuk memaksanya berhubungan seks. Kalau sudah begitu, aku cuma bisa manyun, dengan nafsu yang sudah meronta-ronta tanpa bisa disalurkan. Untung tidak sampai mimisan.

Yah, begitulah. Kini bagiku, coli or not coli, that’s not the question. The question is, mau dikemanain ini dorongan seksku yang bergejolak? Punya rumah dan bisnis sendiri pun nampaknya masih tetap tidak bisa main hajar kapanpun dan di manapun. Pada waktu aku sudah punya rumah dan bisnis sendiri, istriku sedang hamil. Ketika udah melahirkan bakal ada anggota keluarga lain yang ikut tinggal di rumahku. Entah itu Mamak atatu Mama, atau Bulik, atau entah siapa yang bakal ikut momong anakku dan mengajari aku dan istriku cara-cara ngopeni anak. Mungkin ada juga pembantu yang ikut meringankan beban pekerjaan rumah tangga. Nah kalau sudah begitu, makin kecillah kemungkinan untukku bisa bercinta setiap hari.

Now let’s hope hal ini tidak membawa permasalahan baru. Menahan nafsu seks itu lebih tersiksa daripada menahan pipis atau menahan be’ol. Pipis mungkin masih bisa ngompol, be’ol mungkin masih bisa di celana, tapi kalau coli saja tidak bisa, semoga sperma di dalam testisku tidak berubah jadi kodok.

sperma
Kartun bikinan Whyatt (www.whyatt.com.au)

Satu pemikiran pada “Coli or not coli, that’s NOT the question

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s