Manusia itu…

Hari ini baru saja pulang dari Muntilan, menengok adik ipar yang sedang dalam masa penyembuhan usai kecelakaan dua minggu lalu. Kondisinya sudah membaik, jauh lebih baik daripada dua minggu lalu. Jahitan di bibirnya sudah dilepas, sudah bisa makan sendiri, sudah bisa makan makanan keras, namun belum bisa mengatupkan mulutnya karena bibirnya yang masih agak bengkak. Syukur kepada Tuhan (kalau memang Tuhan itu ada) dan syukur kepada dokter, perawat, rumah sakit dan orang baik yang menolongnya pada waktu ia kecelakaan (yang jelas ada).

Tapi bukan itu yang membuatku ingin menuliskan postingan ini, melainkan hal berikut ini.

Malam hari kemarin, aku melihat amplop besar hasil CT Scan-nya yang tergeletak di dinding penyekat di rumah adik iparku itu. Aku membukanya dan mengamatinya di bawah pancaran sinar lampu neon di ruang keluarga. Ada 25 gambar hasil scan kepala adik iparku. Gambar-gambar itu memperlihatkan potongan mendatar dan tegak lurus kepalanya. Terlihat citra tengkoraknya yang berwujud gambar putih terang yang menunjukkan bahwa bagian itu adalah bagian yang keras. Kemudian terlihat juga citra otaknya yang berwujud gambar keabu-abuan dengan beberapa bagian yang gelap yang menunjukkan bahwa bagian itu adalah bagian yang lunak.

Kemudian terbayang olehku, bahwa bagian yang lunak itu ialah otak, sebuah sistem yang mengatur keseluruhan sistem tubuh kita. Sebuah organ lunak yang terlindungi dalam kerangka keras tengkorak kita, mendapat asupan oksigen dan gula sebagai bahan bakarnya, kemudian mengatur seluruh gerak pikiran dan organ fisik kita yang artinya mengatur seluruh kehidupan kita. Aku kemudian mengamati mengamati tanganku, kugerakkan, lalu kusadari, bahwa yang mengatur gerakan tanganku adalah otakku. Sebuah rentetan alur kerja sistem super kompleks yang bekerja 24 jam sehari 365 hari setahun, semuanya berada di bawah kendali otak, organ lunak yang ringkih secara fisik namun sangat powerful secara sistem itu.

Melihat citra-citra otak itu dan bayangan-bayangan sistem kerjanya membuat mulutku melontarkan sebaris kalimat kepada adik iparku,

Manusia itu… menakjubkan ya?

Lalu aku terbayang sesuatu yang lebih besar lagi. Alam semesta ini. Kumpulan milyaran bintang, planet dan satelit-satelitnya, yang bekerja dalam sebuah sistem raksasa yang tidak sempurna namun terlalu besar untuk tidak kusebut dengan ungkapan yang sama, menakjubkan..

Aku membayangkan, betapa sebuah sistem maha raksasa itu mengandung detail yang tak kalah menakjubkannya dalam diri setiap makhluk di dalamnya. Manusia, binatang, tumbuhan, dari yang raksasa hingga yang hanya satu sel, semuanya bekerja sebagai sebuah sistem otonom. Bahkan setiap sel dalam tubuh kita pun bekerja sebagai sebuah sistem yang otonom sesuai fungsinya masing-masing. Bumi hanya sebutir debu di alam semesta. Manusia hanya sekumpulan debu mikroskopis di permukaan debu yang kita sebut Bumi ini. Namun semuanya bekerja sebagai sebuah sistem yang… menakjubkan.

No, ketakjubanku itu tidak membuatku mengatakan bahwa lebih menakjubkan lagi Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya ini. Aku masih percaya pada gap filling God, Tuhan yang mengisi kekosongan-kekosongan dalam diri manusia. Bukan bapak tua berjenggot yang bermain tanah, meniupkan nafasnya ke tanah itu lalu membuatnya hidup untuk kemudian bermain surga-surgaan dan neraka-nerakaan dengan makhluk-mahkluk ciptaan-Nya sendiri itu. Aku lebih percaya pada sains yang membukakan rahasia-rahasia alam semesta ketimbang kepada pendeta yang bahkan tak memahami cara kerja otaknya sendiri. Kalaupun benar bahwa manusia diciptakan oleh sesosok pencipta berwujud humanoid, aku lebih percaya bahwa penciptaan itu dilakukan dalam sebuah laboratorium canggih tempat para pencipta kita bereksperiman membuat kehidupan demi mencari jawaban bagaimana diri mereka sendiri dulu diciptakan.

Ketakjubanku itu membuatku tersadar, bahwa kita adalah debu-debu yang saling berinteraksi satu sama lain, mencoba membuat hidup kita yang kita sadari secara singkat ini menjadi terasa bermakna. Kalau Mayfly – yang hanya hidup beberapa menit sampai beberapa hari setelah setahun berada dalam fase kepompong selama setahun di dalam air – memanfaatkan hidupnya yang sangat singkat dengan kawin dan bertelur sebelum akhirnya mati, dalam perspektif yang lebih besar kita juga seperti itu. Manusia hanya hidup dalam rentang waktu yang sangat singkat dibanding rentang waktu keberlangsungan alam semesta ini. Namun dalam rentang waktu yang sangat singkat itu kita mencoba untuk membuatnya bermakna. Tentu bukan hanya kawin dan beranak seperti Mayfly. Untung saja manusia butuh waktu yang lama untuk dikandung, lahir, tumbuh dewasa sebelum akhirnya mati. Kita punya waktu yang relatif lebih banyak daripada Mayfly, dan dalam rentang waktu itu kita mengisinya dengan hal-hal yang menurut kita menyenangkan. Sebagian dari kita bersantai-santai tidak tahu apa yang harus dikerjakan, sebagian yang lain bekerja membanting tulang memeras keringat untuk mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya, sebagian lagi hanya melakukan apa yang diajarkan oleh sistem buatan manusia lain, sebagian yang lain lagi bekerja untuk memberikan manfaat bagi lingkungannya, bagi umat manusia, bagi kehidupan di bumi, debu yang melayang di angkasa raya maha luas ini.

Jadi intinya apa?

Intinya ya tadi itu.

Manusia itu.. menakjubkan. Meski sistem maha raksasa yang begitu menakjubkan hingga ke detail-detailnya ini tidak sempurna, tapi ini tetaplah menakjubkan. Di samping itu, apa sih yang sempurna? Selalu ada bug dalam setiap sistem. Namun kekurangan itu justru sebuah bukti bahwa sistem itu masih bisa dikembangkan dan disempurnakan. Begitu juga sistem alam semesta ini. Sebuah sistem menakjubkan yang masih selalu disempurnakan. Sama seperti Mac.

Lho?

Wallpaper alam semesta di Macintosh. Coba tebak yang mana Bumi, planet tempat tinggal kita?
Wallpaper alam semesta di Macintosh. Coba tebak yang mana Bumi, planet tempat tinggal kita?

2 pemikiran pada “Manusia itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s