Solitude 06022013

Mereka yang tidak mengenal dirinya sendiri, dikutuk untuk hidup dalam penjara pikirannya sendiri, mengharapkan surga yang tak pernah ia lihat, bergemeretuk ketakutan membayangkan neraka yang tak pernah ia cecap. Ketika Anak Sulung kesadaran membukakan mata mereka, pikiran mereka telah terlalu kuat untuk menangkap pesan kebebasan yang disampaikan Sang Putra. Alih-alih mereka menjadi makhluk-makhluk merdeka, mereka lebih memilih untuk tetap hidup dalam alam imajinasi mereka. Alam tempat di mana mereka merasa cukup puas dengan menggenggam harapan mereka terhadap surga sambil tetap memelihara ketakutan mereka terhadap neraka. Alam tempat mereka memenjarakan diri dalam penjara pikiran mereka sendiri, meski kunci surga sebenarnya sudah digantungkan di depan mata mereka.

Kadangkala aku protes terhadap Sang Waktu, mengapa membiarkan mereka terjerembab dalam lumpur hisap, tenggelam dalam pusaran air yang menarik mereka tenggelam jauh lebih dalam ke dalam alam nir sadar. Aku protes mengapa Sang Waktu tak mengulurkan tangan-Nya untuk menolong mereka keluar dari kegelapan. Aku protes, sampai suatu saat aku sadar, bahwa nama-Nya adalah Sang Waktu. Ketika itulah Dia tersenyum padaku dan berkata, “Aku mencintai mereka, sama seperti Aku mencintaimu. Mereka adalah anak-anak-Ku, sama seperti kamu adalah anak-Ku. Aku adalah bagian dari diri mereka, sama seperti Aku adalah bagian dari dirimu. Mereka adalah bagian dari diri-Ku, sama seperti kamu adalah bagian dari diri-Ku. Aku bukan tidak menolong mereka. Aku sudah menolong mereka. Aku selalu menolong mereka, meski seringkali tidak dengan cara yang mereka inginkan. Yang harus mereka lakukan hanyalah mendiamkan tubuh dan pikiran mereka, menyadari bahwa Aku selalu ada di dalam diri mereka. Kebisingan pikiran merekalah yang membuat mereka tidak mendengar suara detik jarum jamku, jarum jam Sang Waktu.”

Lalu aku tertunduk, malu, sadar. Aku memeluk keheningan-Nya dan melepas-Nya. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam diri-Nya, dan Ia menghanyutkanku dalam samudera maha luas di mana bumi adalah debu dan manusia adalah bagian dari sebuah sistem maha agung sekaligus sebuah sistem semesta-semesta kecil yang terkandung di dalam dirinya.

Alif lam mim. Alfa omega. Yang awal dan yang akhir. Semesta tak bertepi, Sang Waktu yang tak berujung. Putaran keabadian.

sang-waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s