SOP Pola Yang Berhasil Mewujudkan Impian Menjadi Kenyataan

Aku punya banyak impian, target yang ingin kucapai. Barang-barang yang ingin kumiliki, kondisi yang ingin kualami, hal-hal yang ingin kuberikan. Hingga saat ini, ada sebagian yang sudah tercapai, ada yang sedang dalam proses pewujudan, dan ada pula yang gagal tercapai. Aku belajar untuk melakukan test dan ukur, mengamati pola-pola yang membawaku kepada keberhasilan dan juga pola-pola yang membuatku gagal dalam mewujudkan impian. Berikut adalah rangkuman dari sebagian pembelajaranku tentang pola-pola yang berhasil mengubah impianku menjadi kenyataan plus beberapa pelajaran yang menggagalkan sebagian pencapaianku.

Pola proses yang berhasil mewujudkan impian menjadi kenyataan

1. Keinginan

Semuanya berawal dari sebuah keinginan. Keinginan untuk berubah, keinginan untuk mendapatkan sesuatu, keinginan untuk sesuatu yang lebih dari yang kumiliki saat ini. Orang bilang, keinginan adalah sumber penderitaan. Aku memahami itu, namun tidak sepenuhnya setuju. Menurutku, yang menjadi sumber penderitaan adalah keinginan yang tidak disadari. Kalau keinginan itu diciptakan dengan penuh kesadaran, maka keinginan itu tidak akan membawa penderitaan. Kuncinya adalah senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang ini, sambil terus berusaha mewujudkan apa yang kita inginkan terjadi pada diri kita.

Nah, darimana datangnya keinginan? Yang kualami dan kupelajari, keinginan timbul dari sebuah kemuakan terhadap sesuatu yang kita alami atau yang kita miliki. Waktu dulu aku naik tangga ke lantai dua rumahku dan merasa sangat menderita karena berat badanku yang berlebih, aku muak pada keadaan itu dan berkata, “Cukup. Ini sudah keterlaluan. Aku ingin menurunkan berat badanku. Aku ingin sehat, aku ingin punya berat badan dan bentuk tubuh yang ideal, yang membuatku nyaman dan percaya diri.”

2. Keputusan

Dalam penjelasan tentang keinginan tadi secara tidak langsung sebenarnya aku sudah menyinggung tentang keputusan. Keputusan adalah hal yang membedakan antara berangan-angan dengan benar-benar menginginkan sesuatu. Banyak orang yang ingin kaya, ingin kurus, ingin bahagia, ingin punya sesuatu, tapi tidak pernah mengambil keputusan, “Ya, aku benar-benar menginginkan hal itu.”

3. Pengetahuan teknis

Untuk menuju New York, kita perlu memiliki pengetahuan teknis tentang bagaimana cara menuju ke tempat itu. Naik apa, biayanya berapa, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dll. Demikian juga ketika kita ingin mewujudkan sebuah impian menjadi kenyataan. Kita perlu peta jalannya, pengetahuan teknis mengenai bagaimana cara kita bisa mencapai tujuan kita itu. Cara yang sulit untuk mendapatkan pengetahuan teknis adalah dengan menjalani sendiri semuanya, mencatat cara-cara yang berhasil dan cara-cara yang tidak berhasil, lalu meneruskan cara-cara yang berhasil. Cara ini tidak salah, namun bisa sangat memakan waktu yang berharga. Cara yang lebih mudah adalah dengan membaca lewat buku atau tulisan tentang pengalaman orang yang sudah berhasil di bidang yang kita inginkan itu. Misalnya kalau saya ingin ke backpaker-an ke New York, saya bakal cari buku tentang cara backpaker bepergian ke New York, atau saya cari di internet pengalaman orang-orang yang sudah pernah backpaker-an ke New York.

Nah ada cara yang paling mudah untuk memiliki pengetahuan teknis, yaitu dengan memiliki seorang mentor. Mentor adalah seseorang yang memang ahli di bidang itu, yang mau mengajari kita tentang bagaimana cara supaya kita juga sukses di bidang itu. Dulu waktu saya mau menurunkan berat badan, kebetulan saya bertemu dengan Denny Santoso di Twitter. Entah bagaimana, sepertinya kehidupan cenderung untuk mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat ketika saya sedang membutuhkan mereka. Denny Santoso adalah seorang fitness enthusiast, distributor suplemen fitness Ultimate Nutrition, penulis beberapa buku tentang diet, dan pemilik website DuniaFitnes.com. Lewat twitter, saya belajar banyak dari Denny Santoso tentang cara yang benar dan efektif untuk menurunkan berat badan.

4. Tindakan yang persisten

Keinginan, keputusan, pengetahuan, tidaklah berguna tanpa tindakan yang persisten. Knowledge is NOT power. Applied knowledge is. Seperti Bruce Lee bilang,

Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do.

Kalau di Alkitab, ada ayat yang bilang,

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Kesabaran, persistensi dan kerja keras adalah kombinasi yang tak terkalahkan untuk sukses
Kesabaran, persistensi dan kerja keras adalah kombinasi yang tak terkalahkan untuk sukses

Nah, kasih adalah tindakan itu. Hal yang paling besar pengaruhnya terhadap terwujud atau tidaknya impian kita adalah ada tidaknya tindakan, tepatnya tindakan yang persisten. Persisten artinya terus menerus, tidak kenal menyerah, tidak mau berhenti. Persistensi adalah hal yang membedakan antara orang yang berhasil dengan orang yang gagal. Tantangan terberat ketika kita ingin melakukan sesuatu adalah ketika kita akan memulainya. Ada hal yang membuat kita malas bergerak, karena sesuatu yang akan kita lakukan itu berada di luar zona nyaman kita. Tapi, aku belajar bahwa cara terbaik untuk mengalahkan sifat suka menunda-nunda adalah dengan langsung saja melakukannya. Just Do It, kalo kata Nike. Begitu kita memulainya, kita akan menciptakan momentum yang membuat kita terus bergerak. Penelitian menemukan bahwa kita manusia memiliki kecenderungan untuk menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Karena itu, mulailah sekarang  juga.

Tindakan yang persisten juga berarti kita secara sadar mengalokasikan waktu, tenaga dan mungkin juga uang untuk mewujudkan impian kita menjadi kenyataan. Waktu dulu aku ingin menurunkan berat badanku, aku mendaftar menjadi member di gym, kemudian aku rutin ngegym seminggu lima kali. Pola makanku juga mengikuti apa kata Denny Santoso. Hasilnya, beberapa bulan kemudian, berat badanku turun 12 kg dan lingkar perutku berkurang 15 cm. Efek sampingnya, aku harus beli baju baru dan mempermak baju-baju lamaku karena ukuran bajuku sudah turun dari XL menjadi L.

Untuk menjaga persistensi kita, maka kita perlu untuk terus melihat tujuan akhir kita. Impian kita harus lebih besar dari hambatan dan tantangan yang kita hadapi, sehingga kita bakal selalu bisa melihat impian kita itu tanpa terhalangi tantangan-tantangan di depan mata kita.

Beberapa pelajaran dari kegagalan

Berikut adalah beberapa hal yang harus kita mengerti, supaya kita tidak kaget ketika hal itu terjadi pada kita.

1. Shit happens

Ya, kadang ada saja hal yang terjadi yang menghambat kita mencapai tujuan kita. Hal yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah hal yang membuat ras manusia sanggup bertahan dalam jutaan tahun evolusi kehidupan di bumi: beradaptasi. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, ubah pendekatannya, jangan turunkan targetnya.

2. Perubahan lingkungan sosial

Ketika kita memiliki tujuan yang ingin kita capai, seringkali itu membuat kehidupan sosial kita berubah. Kita tidak lagi nongkrong dengan teman-teman kita yang biasanya, kita tidak lagi buang-buang waktu bersama teman-teman kita biasanya, dll. Itu membuat kita kadang dicap aneh, berubah, anti sosial dan segala macam stempel sosial lainnya. Santai saja. Ini memang tidak terelakkan. Jangan takut berbeda. Apalagi menurut survei, hanya 2% orang yang memiliki tujuan yang pasti dalam hidupnya. Jadi kalau ada yang bilang kita aneh karena kita berbeda, sebenarnya justru merekalah yang aneh karena mereka semua terlihat sama. Hahaha

Kadang ada kalanya pula kita merasa kesepian, karena tujuan kita berbeda dengan mayoritas teman-teman kita. Kalau ini yang terjadi pada diri kita, yang perlu kita lakukan adalah mencari komunitas atau teman-teman yang memiliki minat dan tujuan yang sama dengan kita. Don’t worry, kehidupan punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat yang sejalan sepikiran dengan kita. Like attracts like. Yang sefrekuensi akan saling tarik menarik dan berkumpul.

3. Penolakan dari lingkungan

Adakalanya tujuan yang kita inginkan tidak sejalan dengan keinginan orang lain terhadap diri kita. Karena itu kita harus bijak, memilah dan memilih mana hal-hal yang akan kita bagi dengan orang-orang di sekitar kita dan kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Misalnya kalau kita masih kuliah, padahal kita sebenernya ingin berwirausaha, jangan langsung bilang pada orangtua kita bahwa kita mau berhenti kuliah dan pengen jualan. Temen saya pernah begitu, dan orangtuanya marah-marah. Hahaha.

Ada hal-hal yang memang harus kita ungkapkan pada waktunya, namun tidak semua hal perlu kita bagikan kepada orang lain. Selain untuk meminimalisir penolakan dari orang-orang terdekat kita, juga untuk mencegah kebocoran energi dalam diri kita. Setiap kata yang terpikirkan, apalagi yang tertulis atau terucap, memiliki energi. Kalau kita tidak bijak mengelolanya, energi kita bakal habis sia-sia. Kalau kita punya impian yang besar, cara terbaik untuk mengatakannya kepada orang lain adalah dengan mewujudkannya terlebih dahulu.

Wis. Udah. Kayaknya itu dulu catatanku. Catatan yang berguna buatku, dan semoga berguna juga buat anda semua yang membacanya.

Punya pengalaman atau pelajaran yang ingin dibagikan juga? Silakan dibagikan di kolom komentar yah! Saya tunggu lho 🙂

Satu pemikiran pada “SOP Pola Yang Berhasil Mewujudkan Impian Menjadi Kenyataan

  1. yanti sungguh Harum,, Dan Akan lbh smgt selalu,,, Sdh Baca,,, yanti ingin bergabung biar cepat sukse di k.Link,, apa yg yanti impian., bs di depan., impian,,, smg cpt dpt,,,,, rmh. megajhhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s