Evaluasi Bulan Februari 2013

Bulan Februari bulan penuh cinta. Katanya sih begitu. Tapi buat saya nggak cuma Februari. Setiap hari dalam setiap bulan sepanjang tahun memang harus dijalani dengan penuh cinta bersama orang-orang yang kita cintai.

Karena itu pulalah awal Februari kemarin aku dan istriku maen ke Jakarta, nengok Sherine, keponakan kecilku yang sudah tambah lucu. Hari pertama aku nyampe sana, Sherine masih merasa asing denganku. Maklum saja, terakhir aku ke sana dia masih umur 8 bulan kalo gak salah. Sekarang di umur setahun, tentu saja dia sudah lupa wajahku. Namun yang menyenangkan adalah dia sudah mulai belajar menirukan kata-kata yang diucapkan orang-orang di sekitarnya. Ketika aku menyapanya dengan kata, “Hai..,” dia spontan menirukanku. “Hai…,” katanya tanpa ekspresi. Hehe..

Meskipun ia sudah mulai belajar menirukan kata-kata, ia sama sekali belum mau menirukan ketika aku memintanya memanggilku ‘Om.’ Mungkin karena kata itu terlalu singkat dan berakhir dengan huruf yang diucapkan dengan mulut tertutup. Namun ketika pada hari ke-tiga aku membelikannya sebuah kursi balon besar berbentuk kelinci, ia nampak tersenyum gembira. Ketika Mamanya menyuruhnya mengucapkan terimakasih padaku, aku justru memintanya untuk memanggilku ‘Om.’ Tanpa kusangka, ia spontan mengucapkan kata itu. “Om…” katanya, masih tanpa ekspresi. Aku langsung memeluknya dan menciuminya. Eh lha setelah itu ia masih bilang lagi, “Maacih…” So cute.. 🙂

Perjalananku ke Jakarta tidak hanya untuk menengok Mamak dan keluarga kakak iparku itu, namun juga untuk membeli sebuah mesin produksi baru yang memang kubutuhkan. Sebuah mesin gravir untuk melayani permintaan name tag PDH PNS maupun TNI dan Polisi. Aku membelinya di Bhinneka.com, tapi secara offline langsung ke kantornya di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat. Awalnya aku tidak tahu kalau penjualnya adalah Bhinneka.com, karena aku mendapat informasi alat tersebut dari website lain. Ternyata, website itu adalah milik seorang sales manager di Bhinneka.com. Setelah kucari alamat yang diberikannya padaku lewat SMS, barulah aku tahu kalau dia adalah salah satu account manager di Bhinneka.com divisi merk Roland. Setelah menunggu berjam-jam karena barangnya harus diambilkan dulu di gudang, akhirnya kubawa pulanglah mesin gravir digital Roland itu.

Keesokan harinya aku masih berburu beberapa barang lagi, termasuk supplies bahan untuk gravir itu. Beruntung, aku menyewa mobil dengan sopir yang sudah tahu daerah-daerah tempat kulakan barang-barang di Jakarta. Menurut penuturan bapak sopir yang ternyata orang Batak bermarga Sibuea itu, dia memang sudah sering mengantar orang-orang dari luar Jakarta, bahkan juga dari luar Jawa untuk kulakan barang-barang maupun mesin-mesin di Jakarta. Bahkan beberapa langganannya sudah percaya padanya, sehingga mereka tidak lagi datang sendiri ke Jakarta untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan. Tinggal telpon tokonya, order, transfer pembayarannya, kemudian mengontak Pak Boya – nama panggilan pak sopir itu – untuk mengambilkan barangnya dan mengirimkannya via jasa pengiriman barang yang dikehendaki.

Hanya empat hari aku berada di Jakarta. Belum cukup untuk mengobati rasa rinduku pada keponakan kecilku itu. Apalagi sehari sebelum aku pulang, aku membuatnya terpaksa belajar berjalan. Memang sebelumnya dia sudah bisa berdiri sendiri sambil berpegangan, namun ia belum pernah mau belajar berjalan sendiri. Ia lebih senang dititah, berjalan dengan bantuan orang yang memegangi kedua tangannya. Bersamaku, ia kupaksa untuk berdiri dan berdiri sendiri sambil memegang jari telunjukku untuk membantu keseimbangannya. Selangkah demi selangkah ia berjalan maju menuju Mbahnya atau Mamanya. Ketika ia kelihatannya ingin menyerah dan menjatuhkan dirinya, aku mengangkatnya kembali untuk meneruskan latihannya berjalan hingga sampai ke pelukan Mbahnya. Meski sambil menangis, dia meneruskan langkah-langkah kecilnya hingga sampai ke tujuannya. Malam itu ia berlatih begitu kerasnya hingga keringat berkucuran dari sekujur tubuhnya. Tak lama kemudian ia terlelap karena kecapekan. Aku ingin membisikkan sesuatu padanya, namun aku sadar ia tak akan mengerti apa yang akan kukatakan. Aku ingin mengatakan padanya, “Nak, begitulah kelak engkau harus hidup. Belajar terus, berlatih keras, tak pernah menyerah dalam berusaha, maka kamu akan mampu mencapai apapun tujuanmu.” Meski aku tak mengatakannya, aku yakin karakternya sudah mulai terbentuk ketika ia kupaksa belajar berjalan malam itu. Karakter tak pernah menyerah dalam berlatih dan berusaha, yang akan menjadi bekal hidupnya kelak hingga ia dewasa.

Sepulang dari Jakarta, aku langsung menata mesin baruku itu. Aku mencari settingan yang pas, memodifikasinya sedikit untuk menyempurnakan kerjanya, lalu mulai membuat sample produk untuk dipajang di etalase tokoku. Aku bersyukur di hari pertama mesin itu beroperasi, sudah ada orderan masuk. Beberapa hari kemudian bahkan sudah ada pesanan massal untuk sebuah kantor pemerintah. Aku berharap orderan bakal terus berdatangan supaya cepat mencapai BEP. Setelah itu aku ingin berinvestasi lagi dengan membeli mesin produksi yang lain lagi yang memang sangat kubutuhkan.

Meski ada kemajuan besar di bidang bisnis offlineku, namun ada kemandegan di bisnis onlineku. Penyebabnya bukan sesuatu yang negatif sebenernya. Kemandegan itu disebabkan karena memang bisnis offlineku sedang banyak sekali orderan. Aku masih mengkalkulasi hitungan waktu dan biaya untuk bisa mulai menambah karyawan yang khusus menangani pekerjaan yang selama ini kukerjakan sendiri. Dulu pernah beberapa kali punya karyawan, tapi karena bidang produksiku terlalu luas sementara omsetku masih biasa saja, kalkulasinya jadi agak kacau untuk menggaji karyawan tetap. Target utamaku sekarang ini menggenjot omset usahaku pada divisi-divisi yang masih belum maksimal sehingga bisa segera menggaji karyawan khusus di bidang itu dengan upah yang memadai. Entah mengapa aku tidak tega kalau menggaji karyawan di bawah standar hidup daerahku seperti yang dilakukan oleh beberapa toko dan lembaga di kotaku.

Bulan Maret, aku menargetkan omsetku meningkat bersamaan dengan peningkatan laba usahaku. Beberapa hari yang lalu aku melakukan sedikit competition spying dan menemukan fakta yang mengejutkan karena ternyata untuk produk yang sama dengan produkku, kompetitorku menjualnya dengan harga yang hampir dua kali lipat dari harga jualku dan tetap menarik pembeli karena waktu penyelesaiannya yang sedikit lebih cepat. Aku berencana membuat penyesuaian harga yang tetap di bawah harga kompetitorku namun menawarkan value yang lebih besar daripada kompetitorku. Dalam test pasar yang kulakukan dua minggu ini, aku menemukan fakta bahwa orang rela membayar jauh lebih mahal untuk sesuatu yang memang jauh lebih baik dari segi kualitas maupun jangka waktu penyelesaiannya.

Berikutnya, aku menargetkan di bulan Maret aku akan sudah menyelesaikan produk pertamaku yang akan kuluncurkan untuk market luar negeri. Demi mencapai target ini, aku rela membayar harga dengan mengorbankan salah satu kebiasaanku yang meski tidak banyak memakan waktu namun memakan banyak energi dan fokusku. Plus, ini harga yang ingin aku bayarkan untuk mewujudkan targetku yang lain yaitu untuk segera memiliki momongan. Ini bulan ketiga sejak terapiku Desember lalu. Seharusnya di bulan Maret ini aku akan mendapatkan hasilnya. Seluruh energi dan fokusku di luar jam kerja akan kukerahkan untuk… menghamili istriku. Hehehe

O ya, di bulan Februari ini aku dapet bonus tak terduga dari adf.ly. Salah satu blog yang sudah kulupakan ternyata memberiku penghasilan dollar pertama dari adf.ly. Gak banyak sih, cuma $9. Tapi lumayan lah buat beli domain. Hehe. Bulan ini masih dapet pendapatan lagi $12. Not bad lah buat sesuatu yang sama sekali gak ngapa-ngapain. Lah blog aja udah dilupain, eh malah menghasilkan. Lumayan buat tabungan bayar hosting. Hehe..

Sekian evaluasi bulan Februari 2013. Kuharap bulan Maret bakal jauh lebih baik lagi. Senang lho kalo tiap evaluasi bulanan selalu ada yang meningkat. Hidup rasanya jadi tidak sia-sia 🙂blog-statistik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s