Aku Padamu, Wahai Burung Hantu Putih nan Cantik

burung-hantuBurung hantu putih itu terbang melayang dengan anggunnya di depanku. Ia tak mengepakkan sayapnya, hanya meluncur saja seperti mengendarai angin. Ia baru mengepakkan kedua sayap indahnya ketika ia hendak berbalik arah dan terbang naik untuk kemudian hinggap di batang daun pohon kelapa di samping rumahku. Ia bertengger dengan nyaman di batang daun itu. Sesekali ia merentangkan sebelah sayapnya dan menyisir bulunya dengan paruh pendeknya. Pancaran sinar bulan purnama malam ini bak lampu panggung yang menyorot keindahan makhluk cantik itu. Makhluk berbulu putih itu nampak cantik sekali malam ini.

Sudah sejak lama aku menyukai burung hantu itu. Dulu aku hanya sering mendengar suaranya ketika ia terbang melintas di atas rumahku. Terdorong oleh rasa penasaran, aku menunggunya hampir setiap malam. Memang tidak setiap malam aku mendengar suaranya. Entah karena ia memang sedang tidak terbang di atas rumahku, atau karena ia sedang ingin diam tak bersuara. Dan ketika suatu malam suaranya kembali terdengar, aku segera mengambil senter lalu naik ke balkon rumahku. Aku mencari asal suaranya. Dalam kegelapan malam itu, aku melihat dua ekor burung hantu berbulu putih bertengger di batang daun pohon kelapa di samping rumahku. Kusorotkan senter ke arahnya. Ia nampak cuek, namun mungkin ia merasa tak nyaman juga. Maklum saja, ia adalah makhluk malam yang tak menyukai cahaya. Sama seperti sebagian dari diriku. Sorot lampu senterku membuatnya memalingkan wajahnya kemudian melompat sambil mengepakkan sayapnya. Kedua burung hantu itu pun terbang menjauh.

Lama kemudian aku tak pernah lagi mendengar suaranya. Mungkin burung hantu itu takut atau malah marah padaku karena aku menyorotnya dengan sinar lampu senter yang cukup terang. Sampai suatu ketika aku mendengarnya lagi. Aku kembali naik ke balkon rumahku, kali ini tanpa membawa senter. Aku mematikan lampu balkon rumahku supaya bisa melihatnya dengan lebih jelas. Dan di batang daun pohon kelapa yang biasanya itu, bertengger si burung hantu berbulu putih nan anggun itu. Cantik sekali.

Dalam kegelapan aku memandangnya. Mungkin ia juga memandangku, tapi mungkin juga ia tak mempedulikanku. Aku tak peduli. Aku hanya ingin melihatnya, mengagumi kecantikannya tanpa berusaha mendekatinya, apalagi memilikinya. Pernah aku berpikir, aku ingin sekali memelihara burung hantu putih sebagai binatang peliharaan. Tapi kupikir, bukankah itu sangat egois, mengurung sesuatu yang dikagumi dalam sangkar yang membuatnya terpenjara tanpa bisa menghirup kebebasan hanya supaya bisa memandangnya setiap saat? Tidak. Aku tak menginginkan itu. Karena sesungguhnya seperti halnya cinta, rasa kagum bukan alasan untuk mencengkeram erat-erat apa yang dikagumi. Rasa kagum haruslah menumbuhkan rasa hormat dan penghargaan. Menghormati haknya untuk terbang bebas, menghargai keinginannya untuk tidak dimiliki.

Dalam kegelapan itu aku memandangnya. Mungkin ia juga berbalik memandangku, mungkin juga ia tak mempedulikanku. Aku tak peduli. Aku hanya ingin memandangnya, mengaguminya dari kejauhan. Kadang aku berkhayal burung hantu cantik berbulu putih itu terbang mendekat dan hinggap di depanku, bermain denganku atau sekedar membiarkanku membelai bulu halus di kepalanya. Namun untuk saat ini cukuplah aku bersyukur dengan apa yang ada padaku, sebuah kesempatan untuk mengenalnya, melihatnya meski dari kejauhan dan hanya dalam diam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s