Jatuh Cinta

How can I love, if I’m affraid to fall?

Begitu bunyi SMS dari nomor asing yang masuk ke hapeku sehari setelah Natal kemarin. Kalau saja aku tahu siapa pengirimnya, mungkin aku akan membalas SMS itu. Sayang aku tidak ingin membuang waktu dan pulsa untuk sesuatu yang tidak jelas ke mana arahnya. Namun SMS itu cukup membuatku ingin menuliskan sesuatu di blog ini. Yah, daripada blog ini jadi blog berhantu karena lama tidak kuisi postingan baru.

Jatuh cinta memang sesuatu yang sedikit rumit. Ada banyak faktor yang berperan di sini. Rangsangan fisik dari indera penglihatan dan atau rangsangan emosi ke pikiran bawah sadar yang kemudian memicu serentetan reaksi kimia dalam otak yang lalu menyebabkan bermacam-macam reaksi fisik seperti misalnya jantung yang berdetak lebih kencang ketika berdekatan dengan orang yang kepadanya kita jatuh cinta, kelenjar keringat yang tiba-tiba berfungsi melebihi normal ketika bertatap mata dengan si dia, pun kaki yang mendadak dingin dan tegang karena lonjakan adrenalin dalam situasi fight or flight ketika hendak berbicara dengannya, dan bermacam reaksi lain yang membuat kita percaya bahwa kita memang sedang jatuh cinta.

Namun sesungguhnya cinta jauh lebih rumit dari itu. Ketika akhirnya kita menjalin hubungan dengan orang yang kita cintai itu, reaksi-reaksi fisik itu mulai berkurang. Kita mulai terbiasa bertemu dengannya, kita mulai terbiasa berbincang akrab dengannya, kita mulai terbiasa bersentuhan dengannya, hingga kita mungkin tak lagi merasakan sensasi fisik seperti pada waktu awal kita jatuh cinta.

Sensasi itu semakin lama semakin hilang, terlebih setelah kita menikah dengan orang yang kita cintai. Bagaimana kita bisa deg-degan bertemu dengan pasangan kita kalau setiap hari kita bertemu dengannya? Bagaimana kita bisa berkeringat dingin ketika bersentuhan dengan pasangan kita kalau tiap malam kita tidur seranjang dengannya?

Tapi sesungguhnya di situlah cinta kita diuji kemurniannya. Di saat itulah kita belajar tentang makna cinta yang sesungguhnya. Bahwa cinta bukan semata perasaan aneh yang bergejolak di dada kita ketika kita berjumpa dengan orang yang kita cintai, bukan pula gairah membara yang bergerak di sekujur tubuh kita ketika kulit kita bersentuhan dengan tubuh lawan jenis yang kita sukai, namun jauh lebih agung dari itu cinta adalah perasaan menghargai, perasaan ingin melindungi, merangkul dan memberi yang terbaik.

Beberapa hari yang lalu aku dipertemukan dengan sebuah tulisan yang mengagumkan tentang kehidupan pernikahan. Judulnya “Marriage Isn’t for You” yang ditulis oleh Seth Adam Smith di blognya. Sebuah tulisan yang sangat indah dan menyadarkanku bahwa kehidupan cinta dan pernikahan memang bukan untuk kita pribadi melainkan untuk orang lain yang kita cintai. Cinta adalah tentang memberi, bukan semata tentang mendapatkan.

Mengutip tulisan Seth Adam Smith di blognya,

No true relationship of love is for you. Love is about the person you love.

And, paradoxically, the more you truly love that person, the more love you receive. And not just from your significant other, but from their friends and their family and thousands of others you never would have met had your love remained self-centered.

So beautiful.

Aku merasakan cinta yang seperti itu sejak aku memutuskan menikah dengan perempuan yang sudah kupacari sejak masih SMA. Dulu waktu awal-awal masa pacaran, usia remaja yang masih labil secara emosi membuat kami sering bertengkar karena masalah sepele. Cemburu buta, masalah kecil jadi besar. Hingga lambat laun kami tumbuh semakin dewasa secara emosi, kami semakin jarang bertengkar. Kadang memang tetap ada selisih paham, namun kami membiasakan diri untuk tidak membiarkannya berlarut-larut. Sebelum kami tidur semua masalah dan salah paham hari itu harus sudah diselesaikan.

Aku sadar bahwa dia benar-benar mencintaiku ketika dulu aku jatuh. Ia tidak meninggalkanku. Sebaliknya, ia menangkap aku, menopangku, menggenggam erat tanganku hingga aku bisa kembali tegak berdiri.

Sejak aku menikah, aku makin mengerti bahwa cinta bukan tentang diri kita sendiri. Cinta adalah kerjasama dua orang. Setiap kita memiliki satu sayap. Hanya dengan mengepakkan sayap kita bersama dengan pasangan kita, kita bisa terbang tinggi ke mana yang kita mau.

How can I love, when I’m afraid to fall?

That what love is for. When you fall, I’ll catch you. When I fall, catch me like you always did.

My dear, thanks for being my angel, my savior. Thanks for catching me when I fall. I’ll be there when you need me. Hold my hand, flap our wings together, let’s fly to the land of happiness.

Museum Batak Huta Siallagan

Satu pemikiran pada “Jatuh Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s